Swasembada Beras: Datang, Pergi, dan Kembali

37 tahun yang lalu, atau tepatnya pada tahun 1984, Indonesia mencetak sejarah untuk pertama kalinya mencapai swasembada beras dengan produksi mencapai 25,8 juta ton.

 

BPS dalam rilisnya pada tahun 1985 menyebutkan bahwa kondisi Indonesia sukses merengkuh swasembada beras pada tahun 1984 tercatat mempunyai jumlah penduduk 161 juta jiwa dengan tingkat konsumsi beras perkapita mencapai 132,53 kg/tahun. (Statistik Indonesia 1984. www.bps.go.id)

 

Jika melihat pada ketentuan FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) pada tahun 1999, suatu negara dapat dikatakan mencapai swasembada pangan apabila jumlah produksi pangan telah mencapai 90% dari kebutuhan nasional. (Produksi Dalam Negeri Cukupi Kebutuhan Domestik, www.pertanian.go.id) Sehingga apa yang terjadi di Indonesia hampir 4 dekade lampau telah memenuhi kriteria swasembada beras, karena ambang batas produksi nasional telah dilewati bahkan mencapai surplus lebih dari 4 juta ton beras.
 
Namun sayang, keberhasilan tersebut perlahan mulai pudar sejak memasuki tahun 1990. Perlahan produksi mulai tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan rasio ketercukupan beras tidak lagi sama saat swasembada diraih. Jumlah konsumsi semakin meningkat namun tidak diiringi dengan jumlah yang sama pada sektor produksi. Alhasil tahun tersebut menjadi awal naik turunnya gelombang perberasan di Indonesia.
 
Perlu proses perlahan dalam perubahan paradigma pembangunan pertanian. Keberhasilan swasembada beras yang pernah terjadi menjadi simbol semangat untuk meraihnya kembali. Berkat kerja sama antara pemerintah dengan seluruh stakeholder terkait dari pusat hingga pelosok daerah, asa meraih swasembada beras terus digaungkan
 
Salah satu bentuk langkah terukur dari Kementerian Pertanian adalah untuk pemantapan ketahanan pangan, yang meliputi aspek ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan. Kebijakan ketahanan pangan dalam aspek ketersediaan pangan, difokuskan pada peningkatan ketersediaan pangan yang beranekaragam berbasis potensi sumberdaya lokal, penanganan kerawanan pangan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan kelaparan.
 
Dalam aspek keterjangkauan pangan, difokuskan pada stabilisasi pasokan dan harga pangan serta pengelolaan cadangan pangan. Sedangkan pada aspek pemanfaatan pangan, difokuskan pada: percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya dan kearifan lokal; dan ditunjang dengan pengawasan mutu dan keamanan pangan segar. (http://bkp.pertanian.go.id/)
 
Selain faktor-faktor di atas, tidak lupa peranan sektor mekanisasi pertanian yang membawa dampak signifikan dalam peningkatan produksi baik kecepatannya maupun kuantitas jumlahnya. Hal ini yang dioptimalkan saat pemerintahan Jokowi sehingga hasil produksi pertanian Indonesia khususnya beras semakin tinggi.