BPS Prediksi Surplus Beras pada November Bakal Menyusut

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi angka surplus beras pada bulan November 2019 mendatang mengalami penurunan. Indikasi adanya penurunan itu berdasarkan penghitungan dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA) yang diterapkan oleh BPS.

 

Kurun waktu Januari-November 2019, metode KSA menunjukkan, produksi nasional gabah kering giling (GKG) sebanyak 51,29 juta ton atau 29,41 juta ton setara beras. Dari jumlah produksi itu, pasokan beras diprediksi masih mengalami surplus sebanyak 2,15 juta ton.

 

Angka surplus beras diperoleh setelah dibagi dengan rata-rata volume konsumsi beras nasional per bulan sekitar 2,3-2,5 juta ton.

 

Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, BPS, Hermanto, menyampaikan bahwa pada November 2018, capaian surplus beras bisa mencapai 3,33 juta ton. Menurut dia, adanya penurunan capaian surplus beras pada November tahun ini akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

 

"Surplus beras November tahun ini masih di bawah tahun lalu karena kemarau cukup panjang. Ini data terbaru BPS dari hasil pemantauan KSA," kata Hermanto kepada Republika.co.id, Senin (7/10).

 

Dibanding Oktober 2019, posisi surplus beras November juga mengalami penurunan. Oktober ini surplus beras bisa mencapai 3,02 juta ton. Namun, secara umum penurunan surplus beras dari bulan ke bulan di penghujung tahun lantaran mulai berakhirnya musim panen gadu tahunan, 

 

Hermanto enggan berkomentar, apakah penyusutan surplus beras tersebut masih aman untuk menjaga stabilisasi harga beras di akhir 2019. Menurut dia, semestinya masih aman karena pada akhir tahun 2018 produksi beras nasional surplus sekitar 3 juta ton.

 

Surplus pada akhir 2018 itu, menjadi kompensasi di tahun ini sehingga menambah posisi surplus beras dari bulan ke bulan. Dengan catatan, konsumsi beras nasional normal dan tidak melonjak.

Kendati demikian, Hermanto menilai, melihat prediksi produksi beras November yang baru 29,41 juta ton, kemungkinan besar target produksi beras tahun 2019 sebanyak 49 juta ton tidak tercapai. "Iya (sulit mencapai target). Semoga di bulan Desember ada panen yang lebih besar dibanding 2018. Paling tidak mengurangi deviasi (capaian produksi)," ujar Hermanto.

 

Namun, prediksi bulan Desember baru akan terlihat dari penghitungan prediksi di akhir bulan September lalu yang masih diproses. Sebagaimana diketahui,  metode KSA merupakan cara penghitungan luas tanam, panen, dan produksi yang bisa memprediksi tiga bulan ke depan. 

 

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian, Musdalifah Machmud, menuturkan, hingga saat ini, peredaran beras di tengah masyarakat sudah cukup aman. Surplus beras yang tersisa akan dioptimalkan untuk menjaga stabilisasi harga di pasar.

 

Pemerintah, kata dia, juga telah meminta Bulog untuk mulai menggelontorkan beras ke pasar-pasar yang mengalami lonjakan harga. "Kita sudah minta (Bulog). Kita punya stok yang lumayan," kata Musdalifah.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Suhanto, mengatakan, pada minggu pertama Oktober ini, rata-rata harga beras nasional jenis medium sebesar Rp 10.530 per kilogram. Harga itu masih relatif stabil dibanding posisi hrga minggu keempat November yang sebesar Rp 10.523 per kilogram.

Adapun harga beras jenis premium, di minggu pertama Oktober sebesar Rp 12.345 per kilogram, turun tipis dibanding minggu keempat November sebesar Rp 12.351 per kilogram.

(Republika.co.id)