Produksi Jagung Melimpah, Petani Berharap Harga tidak Turun

Bupati Gunungkidul, Badingah, menargetkan jagung dapat menjadi komoditas unggulan di wilayah tersebut. Sebagai komoditas unggulan diharapkan bisa mensejahterakan masyarakat setempat.


Saat ini Gunungkidul tengah memasuki panen raya jagung. Rata-rata panen mencapai 4,9 ton per hektare.


Untuk itu, Badingah, berharap agar harga jagung ini tidak turun. "Karena kalau seandainya nanti terjadi seperti itu, kita kasihan kepada masyarakat Gunungkidul agar bisa tetap bertahan dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat terutama dalam kesejahteraannya," kata Badingah saat melakukan panen raya perdana jagung hibrida di Desa Bleberan, Playen, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (9/2).


Untuk itu, produktivitas jagung ini terus ditingkatkan. Terlebih, Gunungkidul merupakan salah satu penghasil jagung terbesar di DIY.


Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Sumari Citro Wibowo mengaku, saat ini harga jagung mencapai Rp 5.000 per kilogram. Ia pun berharap agar harga jagung ini tidak turun.


Ia juga berharap agar pemerintah menghentikan impor jagung. Sebab, Indonesia memiliki produktivitas jagung yang mencukupi. Terlebih pada saat panen raya kali ini.


"Harapannya bagaimana kita setop (impor). Kita punya jagung sendiri, kenapa harus impor. Kita di petani harga tinggi, mohon impor setop. Ini (di DIY) panen raya, belum di Jateng, Jatim juga," kata Sumari.


Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto mengatakan, hasil panen jagung nasional sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Bahkan, Indonesia sudah bisa mengekspor jagung.


"Kita sudah ekspor jagung, karena tahun 2018 kita ekspor 380 ribu ton. Untuk impor kita kurang lebih 100 ribu ton," kata Gatot.


Namun, impor juga masih diperlukan. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga stabilitas harga jagung dalam negeri.


Gatot menyebutkan, kebutuhan jagung secara nasional mencapai 15,1 juta ton. Namun, hasil panen per tahun mencapai 30 juta ton. Artinya, produksi jagung di Indinesia sendiri surplus.


"Jangan diasumsikan kita ini surplus tidak boleh ada impor. karena pasti dalam kondisi tertentu, seperti kemarin peternak menjerit, harganya tinggi dan didatangkan jagung (impor). Ternyata harga jagung dalam negeri tidak terganggu," lanjutnya.


Ia menjelaskan, naiknya harga jagung dipengaruhi dari berbagai hal. Salah satunya karena produksi jagung yang tidak di satu tempat, sehingga membutuhkan biaya untuk distribusi.


"Contoh, pengguna jagung terbesar ada di Jatim. Tapi produkdi yang banyak itu di Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Ini butuh mobilisasi," kata Gatot.

(Republika.co.id)