Harga Eceran Tertinggi Komoditas Harus Ukur Biaya Produksi

Penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) harus mengukur biaya produksi dalam negeri. HET beras dinilai sulit dicapai mengingat pergeseran harga produksi.

 

Harga produksi ketika penetapan HET mengalami perubahan. "Sekarang biaya produksi terus naik, pada Januari 2018 Gabah Kering Panen (GKP) Rp 4.286 per kilogram (kg) sehingga HET susah terkejar," ujar Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB).

 

Sejak awal pun penerapan HET dinilai tidak rasional mengingat harga rata-rata beras saat itu masih tinggi. Dwi bilang harga rata-rata beras medium ketika penerapan HET mencapai Ro 10.616 per kg.

Dwi bilang HET akan mudah diterapkan bila harga ditentukan berdasarkan harga internasional.

 

Namun, hal itu bukan berdampak buruk bagi barang yang diproduksi dalam negeri. "Malasah terjadi bila komoditas diproduksi dalam negeri," terang Dwi.

 

Hal itu dicontohkan pada komoditas minyak goreng. HET minyak goreng dinilai tidak mengalami masalah dikarenakan harga ditentukan melalui harga internasional.

 

Sementara untuk HET daging beku, tidak akan dapat diterapkan kepada daging segar. Saat ini harga daging sebesar Rp 116.000 per kg sementara HET daging beku Rp 80.000 per kg.

 

Gula pun demikian. Dwi bilang akibat komponen impor yang tinggi membuat HET gula dapat diterapkan tanpa mengalami masalah.

 

(Kontan)