Episode Baru: Produksi Jagung Surplus

Kementerian Pertanian (Kemtan) memiliki episode baru tentang swasembada hasil pertanian. Kali ini, instansi ini mengklaim produksi jagung sudah surplus sehingga Indonesia berpeluang menggenjot ekspor jagung ke sejumlah negara.

 

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, pada tahun ini pemerintah menargetkan bisa melakukan ekspor jagung sebanyak 300.000 ton. Dari target itu, Amran menyatakan, sebagian sudah diawali dengan ekspor perdana sebanyak 57.000 ton ke Filipina.

 

"Hasil produksi jagung dari berbagai wilayah seperti Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sumbawa Besar, dan Jawa Timur bisa diekspor," ujarnya.

 

Atas langkah ekspor jagung tersebut, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Johan mengaku, industri pakan tak akan terganggu. Untuk bisa memenuhi kebutuhan bahan bakunya, Johan bilang, pihaknya pembelian panen jagung di wilayah yang dekat sentra produksi pakan. Itu dilakukan untuk efisiensi perusahaan.

 

Apalagi menurut Johan, jagung yang diekspor pemerintah berasal dari sentra produksi jagung yang jauh dari industri pakan seperti Sulawesi Selatan. "Biasanya industri bergerak membeli ke daerah tersebut apa bila panen menipis," ujarnya.

 

Jagung hasil panen dari wilayah yang jauh dari sentra produksi pakan ternak, menurut Johan, akan kalah saing akibat biaya pengiriman yang tinggi. "Sentra produksi jagung yang jauh dari sentra produksi pakan ternak pasti akan kalah dalam kompetisi harga jual jagung," katanya.

 

Dia menyebutkan, ongkos angkut dari sentra produksi jagung seperti Makassar, Gorontalo, dan Sumbawa bisa mencapai di atas Rp 400 per kilogram (kg). Sementara ongkos angkut dari Lampung ke Jakarta kurang dari Rp 200 per kg.

 

Harga ideal

Asal tahu saja jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak. Komposisinya dibandingkan dengan bahan baku yang lain melebihi 50%. Akibat penutupan impor untuk pakan ternak di 2017, produsen pakan ternak sebelumnya mengeluhkan harga jagung yang sangat tinggi.

 

Industri pakan ternak sendiri membutuhkan jagung sebesar 8,5 juta ton per tahun. Sedangkan secara total ditambah untuk pangan, kebutuhan jagung mencapai 13 juta ton per tahun.

 

Dengan jumlah itu pada tahun 2016, Indonesia masih mengimpor 2,4 juta ton jagung. Sedangkan di tahun ini, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) jagung sebanyak 171.660 ton untuk kebutuhan industri dalam negeri bagi lima perusahaan pemilik Angka Pengenal Importir Produsen (API-P).

 

Sedangkan Kemtan memprediksi pada April 2018, bakal ada panen raya jagung di seluruh Indonesia dengan volume mencapai 14 juta ton atau lebih dari separuh target produksi jagung tahun ini yang mencapai 24 juta ton.

 

Sholahudin, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) menyebut momentum panen raya ini dijadikan ajang industri pakan untuk mengumpulkan bahan baku.

 

Tak hanya industri pakan, panen jagung juga dipergunakan industri makanan untuk memenuhi bahan bakunya. Makanya, Sholahudin mengaku tidak khawatir untuk mendistribusikan hasil produksi jagung saat hasil panen melimpah.

 

Dia pun memprediksi meski produksi melimpah, harga jagung tak akan jatuh pada saat panen raya nanti. Menurutnya harga jagung di tingkat petani saat ini sebesar Rp 3.100 per kg di Pulau Jawa dan Rp 2.700 per kg di luar Pulau Jawa. Harga itu sudah cukup ideal bagi petani. "Yang terpenting harga jagung petani tidak jatuh," ujarnya.

 

(Kontan)