Pengusaha Penggilingan Padi Minta Pemerintah Amankan Buffer Stock

Belum normalnya stok dan pasokan beras ke Pasar Induk Cipinang bisa dijadikan indikator masih belum banyaknya panen di daerah, karena memang belum memasuki panen raya.

 

 

Stok di Pasar Induk Cipinang masih di bawah kondisi ideal, yakni 25.000 ton-30.000 ton per hari, dengan rata-rata pasokan 3.000 ton per hari. Per Minggu (11/2/2018), misalnya hanya sekitar 22.000 ton.

 

Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras DKI Jakarta mengungkapkan bahwa pasokan dan stok ke Pasar Induk Cipinang baru dalam kondisi stabil dan aman pada Maret mendatang pada saat panen raya.

 

"Hanya saja, pasokan ke Pasar Induk Cipinang tidak bisa otomatis sesuai kondisi mencukupi pada saat panen raya," ungkap Nellys Sukidi, Ketua DPD Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) DKI Jakarta, Senin (12/2/2018).

 

Di sisi lain, sambungnya, pemerintah wajib memupuk buffer stok dalam kondisi aman, yakni 1 juta ton. Namun, ungkapnya, stok beras pemerintah di gudang Bulog kurang dari 700.000 ton.

 

Hanya saja, dia mengharapkan agar kebijakan impor beras tidak dilihat dari sisi merugikan petani, tetapi juga harus dilihat dari kewajiban pemerintah untuk mengamankan stok beras.

 

"Petani dan konsumen itu sama-sama penting. Setelah panen petani juga menjadi konsumen. Kita harus melihatnya dalam perspektif keseimbangan produsen dan konsumen," tegas Nellys.

 

Menurutnya, yang penting impor beras yang dilakukan tak merugikan petani. "Kalau tidak ada beras di gudang Bulog, siapa yang jamin panen yang akan datang itu berlimpah. Belum tahu masih berbentuk tanaman, masih di lahan."

 

Dia mengatakan bahwa gabah dan padi yang masih di sawah tidak bisa dipandang sebagai buffer stock milik pemerintah.

 

(Bisnis.com)