Harga Pangan Dorong Inflasi di November 2017

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi November 2017 sebesar 0,2%. Angka itu naik dibanding posisi bulan sebelumnya yang sebesar 0,01%.

 

Kenaikan inflasi tersebut didorong oleh kenaikan sejumlah bahan pangan. Bahan pangan pada November 2017 mencatat inflasi 0,37% yang merupakan inflasi tertinggi dibandingkan dengan kelompok pengeluaran lainnya.

 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sejumlah komoditas pangan menyumbang inflasi bulan lalu, meliputi cabai merah dengan andil inflasi 0,06%, beras dengan andil inflasi 0,03%, bawang merah dengan andil inflasi 0,02%, serta daging ayam ras, ikan segar, dan telur ayam ras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%.

 

"Beras kenaikannya sebetulnya tipis, tetapi karena bobotnya lumayan besar sebesar 3,75% maka andilnya 0,03%. Sementara kenaikan cabai dan bawang merah karena pengaruh musim," kata Suhariyanto.

 

Namun, ada pula sejumlah bahan pangan yang menjadi penghambat inflasi atawa mencatat deflasi. Beberapa di antaranya, yaitu bawang putih, tomat buah, apel, dan jeruk.

 

Berikutnya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dengan inflasi 0,22% karena kenaikan pada mi dan rokok kretek filter dengan masing-masing andil sebesar 0,01%.

 

Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencatat inflasi 0,13%. Selain itu, kelompok sandang, kesehatan, pendidikan masing-masing mencatat inflasi 0,12%, 0,27%, dan 0,1%.

 

Hanya kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mencatat inflasi paling rendah, yaitu sebesar 0,09%. Itu pun, pada kelompok ini terdapat harga pertamax. "Namun, andilnya kecil sekali," tambah dia.

 

Sementara itu, berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat 0,13% dan 3,05% yoy, inflasi harga yang diatur pemerintah tercatat 0,21% dan 8,76%, serta inflasi harga pangan yang bergejolak 0,38% dan -1,24% yoy.

 

(Kontan)