Wakil Bupati Cilacap Pimpin Pengiriman Perdana Beras ke PT Food Station

Mengawali tahun 2019, PT Food Station Tjipinang Jaya mulai mendapatkan pasokan beras dari Gapoktan Sumber Makmur Cilacap. Sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kerjasama serupa akan digelar dengan Gapoktan dari sejumlah sentra produksi beras lainnya yang ada di Indonesia

 

 

PT Food Station Tjipinang Jaya menindaklanjuti kerja sama pengadaan beras dengan Gapoktan Sumber Makmur Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Pengiriman perdana beras pun digelar dalam sebuah acara seremoni yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Cilacap Syamsul Aulia Rahman didampingi Arief Prasetyo Adi selaku Dirut PT Foodstation Tjipinang Jaya, Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Trisno Nugroho, dan Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto Agus Chusaini di Cilacap, Rabu, 6 Maret 2019.


Turut hadir dalam acara pengiriman perdana tersebut, Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya Frans Tambunan, Plt Kepala Seksi Pengadaan Laras Kulsum, Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap Farid Maruf, Ketua DPRD Kabupaten Cilacap Taswan dan beberapa pejabat dari Forkompinda Kabupaten Cilacap serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta antara lain Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian, Kepala Biro Perekonomian dan Badan Pembinaan BUMD.


Direktur Utama PT Food Station Tjipinan Jaya Arief Prasetyo Adi mengatakan, pemberangkatan beras perdana ini diawali dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Gapoktan Sumber Makmur sebagai penyedia beras dan PT Foodstation selaku BUMD DKI Jakarta.
Sekedar informasi, Gapoktan Sumber Makmur adalah Gapoktan binaan Bank Indonesia dan sudah bekerjasama sama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya untuk menjadi salah satu pemasok beras.


Di Acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) pertengahan Desember 2018 lalu, PT Food Station Tjipinang Jaya sudah membuat kesepakatan dengan Gapoktan Sumber Makmur, Kabupaten Cilacap sebesar Rp 20 miliar untuk pengadaan pasokan beras DKI Jakarta.
“Penjajakannya sudah dilakukan sejak tahun lalu. Saat itu kami difasilitasi oleh Bank Indonesia, terutama Kantor Perwakilan BI Jakarta dan Kantor Perwakilan BI Purwokerto. Jadi peran BI itu luar biasa dalam mepertemukan kita semua,” kata Arief saat membacakan sambutannya.


Peluang kerjasama untuk menjadi pemasok kebutuhan bahan pangan untuk warga Jakarta masih sangat luas. Pasalnya, kebutuhan bahan pangan warga Jakarta hampir 100 persen dipasok dari daerah lain.


“Jakarta sama sekali nggak punya lahan untuk memproduksi hasil pertanian. Jadi tidak terbatas hanya beras. Tetapi peluang untuk menjadi pemasok kebutuhan bahan pangan lainnya masih terbuka luas,” tutur Arief.


Terkait hal tersebut ia berharap, peluang kerja sama ini bisa ditangkap oleh Gapoktan dan Pemkab Cilacap.


“Kalau hanya kirim 200 truk nggak ada apa-apanya buat Jakarta. Karena Food Station sendiri dalam sebulan memproduksi 10.000 ton beras. Jadi saya minta tolong Gapoktan lain bisa diajak kerja sama juga. Nanti kita buat kerjasama B to B yang kemudian bisa diperluas menjadi G to G,” ungkapnya.


Arief memastikan PT Food Station Tjipinang Jaya akan membeli dengan harga yang baik serta pembayaran yang cepat. Karena itu ia berharap agar pengirimannya juga bisa berlangsung dengan lancar dan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.


Untuk itu ia berharap kerja sama ini bisa berlangsung dalam jangka waktu yang lama.


“Percayalah kami adalah mitra terbaik, karena kami mengerti petani itu kepentingannya harga stabil dan tenang, sementara kami butuh stabilitas pasokan. Jadi kuncinya saling percaya dan nggak saling selingkuh,” tandasnya.


Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Trisno Nugroho menyebutkan kerjasama ini menjadi salah satu upaya memenuhi pasokan beras di ibukota bersama pedagang lain.


“BI juga menghendaki kerjasama ini menguntungkan pihak pemerintah dan petani, hal tersebut untuk memangkas rantai distribusi dan potensi permainan harga karena yang terjadi adalah transaksi langsung antara Gapoktan dengan Foodstation” ujarnya.


Untuk tahap awal Gapoktan siap mengirimkan sebanyak 100 ton gabah varietas IR ke wilayah Jakarta.


"Ada potensi share market antara 9 - 10 persen yang bisa menjadi referensi beras di DKI, hal tersebut menjadi tren harga agar inflasi tidak terlalu tinggi," kata Trisno.


Karena itu, dirinya menyambut baik kerja sama antara PT Food Station dengan Gapoktan Sumber Makmur. Menurutnya kerja sama ini akan membantu menekan inflasi Jakarta.


“Inflasi Jakarta menyumbang 20 persen untuk inflasi nasional. Jadi mengendalikan inflasi Jakarta dengan sendirinya membantu mengendalikan inflasi nasional. Terkait pengendalian inflasi inilah, BI aktif mendorong BUMD Pangan Jakarta seperti PT Food Station untuk mencari pasokan bahan pangan ke berbagai sentra produksi bahan pangan yang ada di Indonesia,” ujar Trisno.


Lebih lanjut Trisno berharap acara pengiriman beras perdana hari ini bisa berlanjut dan membuka peluang Gapoktan lain yang ada di Kabupaten Cilacap untuk melakukan kerja sama serupa.


“Semoga kerja sama hari ini membuka peluang untuk kerja sama pasokan komoditi pangan lainnya antara PT Food Station dengan Pemkab Cilacap,” tandas Trisno.


Wakil Bupati Syamsul Auliya Rahman menyatakan kerjasama ini terjalin mengingat Kabupaten Cilacap surplus beras hingga 290 ribu ton. Melalui kerjasama ini diharapkan mampu mengendalikan harga dan petani semakin makmur karena tidak dikendalikan oleh para tengkulak.


Namun ia mengingatkan agar suplai beras ke Jakarta tidak berlebihan, harus ada keseimbangan stok untuk kebutuhan pasar lokal. Sebab berapa tahun terakhir ini inflasi Cilacap tinggi akibat kekurangan beras.


"Tingginya pengiriman beras ke luar daerah menyebabkan Cilacap kekurangan beras. Kondisi demikian bisa memicu terjadi inflasi,” katanya.
Yang menarik ia juga tertarik untuk membentuk BUMD Khusus Pangan seperti yang sudah dimiliki Jakarta.


“Saat ini kami baru punya Perusda Serba Usaha yang mengurusi potensi produk pangan Kabupaten Cilacap. Kedepan kami ingin Perusda ini bisa ditingkatkan menjadi BUMD agar bisa memberikan manfaat lebih kepada masyarakat,” ungkap Syamsul.


Jajaki Kerjasama Produk Non Beras


Setelah acara pelepasan pengiriman perdana beras, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto memfasilitasi pertemuan antara BUMD Pangan Jakarta yang diwakili oleh PT Food Station dan Perumda Pasar Jaya dan perwakilan SKPD Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap di Kantor Bupati Cilacap.


Dalam pertemuan yang berlansung dalam suasana informal tersebut, Kepala Biro Perekonomian Pemkab Cilacap Arida Puji Hastuti memaparkan sejumlah produk hortikultura unggulan daerahnya sepert cabai, kopi, manggis, pala dan gula semut kepada Perwakilan Pemprov DKI Jakarta.


“Kami ingin kerjasama pengiriman beras ini bisa diperluas dengan kerjasama pengiriman produk lain seperti cabai, kopi, manggis, pala dan gula semut. Barangkali produk unggulan daerah kami tersebut bisa juga diserap oleh PT Food Station atau Perumda Pasar Jaya,” jelas Arinda.


Arinda menuturkan komoditas hortikultura di Kabupaten Cilacap merupakan komoditas utama yang mampu memberikan kontribusi ekonomi cukup besar bagi masyarakat. Selain itu produksi komoditas hortikultura juga cukup tinggi dan berpotensi untuk memenuhi kebutuhan di luar Cilacap.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Susilan menyambut baik kerjasama dengan PT Food Station. Pasalnya selama ini petani di Kabupaten Cilacap mampu memproduksi tapi kurang mampu menjual. Karena itu ia juga berharap kerjasama dengan Pemprov Jakarta bisa diperluas dengan produk yang lain.


Senada dengan koleganya dari Pemkab Cilacap, Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto Agus Chusaini menyambut baik tawaran perluasan kerja sama dari PT Food Station. Ia berharap tawaran tersebut bisa segera ditindaklanjuti. Apalagi selain beras, Kabupaten Cilacap selama ini juga banyak menghasilkan bahan pangan lainya, antara lain kopi, pala, manggis, gula semut.


“Saya kira produk-produk Kabupaten Cilacap tersebut bisa ditawarkan kepada PT Food Station atau Perumda Pasar Jaya sebagai sesama BUMD Pangan Jakarta yang memiliki Pasar Induk Kramat Jati,” tuturnya.


Direktur Pengembangan Usaha Perumda Pasar Jaya Anugrah Esa siap menjembatani petani manggis, cabai dan pala untuk bertemu dengan pedagang besar di Pasar Induk Kramat Jati.

Esa menuturkan, kebutuhan cabai untuk Jakarta sekitar 120 ton per hari untuk semua jenis cabai. Selama ini kebutuhan tersebut banyak dipasok dari daerah Magelang dan Banyuwangi.


Khusus untuk cabai potensinya masih sangat besar dan saat ini kami memang sedang melakukan sourcing.
“Ada 2 opsi untuk pengadaan cabai. Pertama kami beli langsung melalui Unit Agro Perumda Pasar Jaya dan beli melalui pedagang yang ada di Pasar Induk Kramat Jati,” jelas Esa.


Sementara untuk bawang merah kebutuhannya juga 120 ton per hari. Sementara untuk manggis, Esa mengaku belum paham detail kebutuhannya.
“Nanti saya tanya dulu datanya kepada pedagang di Pasar Induk,” ujar Esa.


Namun demikian Esa menawarkan kepada Pemkab Cilacap untuk menyewa kios yang ada di Pasar Induk Kramat Jati untuk dijadikan etalase produk unggulan Cilacap. Adapun mekanismenya adalah hak pakai dan kami akan menerbitkan legalitasnya atas nama Pemerintah Daerah setempat. Selain bisa dipergunakan sebagai etalase produk unggulan, kios etalase tersebut nantinya akan bisa dioptimalkan oleh Pemkab Cilacap untuk menjelaskan kepada potensial buyer yang ada di Pasar Induk Kramat Jati.


“Kami tunggu kedatangan Pemkab Cilacap ke Jakarta untuk menyaksikan langsung Pasar Induk Kramat Jati dan membahas lebih detail lagi potensi kerjasamanya,” tandas Esa.