Harga Beras di Pasar Induk Beras Cipinang Kembali Normal

Harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta Timur kini kembali normal setelah sebelumnya sempat menembus harga Rp 10.800 per kilogram. Harga beras IR ini rata-rata turun Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram. sementara harga yang dijual untuk di tingkat pedagang sampai ke pembeli selisihnya sekitar Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per kilogram. 

 

Untuk harga beras IR kualitas I harganya dari Rp 10.800 per kilogram turun menjadi Rp 9.850 per kilogram. Kemudian beras IR kualitas II dari Rp 9.500 per kilogram menjadi Rp 8.800 per kilogram. Sementara beras IR kualitas III dari Rp 8.800 per kilogram menjadi Rp 8.200 per kilogram.


Menurut Kepala Divisi Pengembangan dan Keuangan PT Foodstation Tjipinang Jaya, Junaidi, penurunan harga ini tak lepas dari operasi pasar (OP) yang digelar Perum Bulog bekerja sama dengan PT Foodstation Tjipinang Jaya selaku pengelola PIBC. "Sekarang harga beras ada di kisaran Rp 7.300 per kilogram," ujarnya.


Menurut Junaidi, harga mulai turun sejak 3-4 minggu lalu, terutama sejak dilakukan OP. Sebagai barometer dan pusat informasi perdagangan beras, OP yang digelar di PIBC dirasa tepat. “Begitu OP digelar, penurunan harga yang terjadi di PIBC memiliki efek ganda ke konsumen. Berbeda jika OP dilakukan ke end user atau konsumen langsung.

 

Di sisi lain, Junaidi menambahkan, kebutuhan (demand) akan beras premium maupun ketan diperkirakan akan terus melonjak. Sayangnya, lonjakan kebutuhan ini tak diimbangi dengan supply yang memadai. "Produksi beras premium maupun ketan memang tak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Karena itu, mau tidak mau kita harus mengimpor," ujarnya. 

 

Saat ini, kata Junaidi, harga ketan ada di kisaran Rp 11.000 per kilogram. sementara kebutuhan ketan baru terpenuhi sekitar 40 persen. "Yang 60 persen harus impor. Kalau dibiarkan harga ketan diperkirakan akan jadi Rp 15-16 ribu per kilogram," katanya.

 

Agar harga terjangkau dan kebutuhan terpenuhi, katanya, mau tak mau harus impor. Sebab, konsumsi dalam negeri lebih tinggi dari jumlah produksi. "Untuk bisa mengimpor, importer yang ingin mengimpor 100 persen, 20 persennya harus dari beras lokal. 80 persen lainnya baru dari luar," katanya.