Impor Beras Tahun Ini Diprediksi Lebih dari 1,5 Juta Ton

Impor beras tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta ton. Jumlah ini melonjak hampir empat kali lipat dari realisasi Januari-Oktober 2014 yang hanya 405 ribu ton. Lonjakan impor lebih dipicu oleh minimnya produksi padi akibat musim tanam yang mundur 1-2 bulan. Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi padi sebanyak 73,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 2,79 juta ton dari perkiraan produksi tahun ini 70,61 juta ton. 

 

 

Peneliti pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Ketua Program Studi S-2 Bioteknologi Tanah dan Lingkungan, Dwi Andreas Santosa, pesimistis target produksi padi dan surplus beras akan tercapai. Segala upaya pemerintahan dalam mengejar produksi pangan terutama padi baru akan terasa dampaknya pada 2016.

 

“Musim tanam mundur dua bulan. Dampaknya luar biasa terhadap produksi padi. Apalagi kalau puncak hujan berlangsung lama 1-2 bulan yang akan memicu banjir. Target produksi sulit tercapai, sehingga impor beras akan meningkat bisa lebih dari 1,5juta ton,” kata Dwi.

 

Dwi mengungkapkan, konsep pembangunan pertanian Indonesia yang menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pangan global juga membuat impor sulit dihindari. Disparitas harga pangan impor dan pangan domestik hasil produksi petani membuat para mafia pangan terus mendorong agar dilakukan impor.

 

“Umumnya harga pangan impor jauh lebih murah dari pada produksi petani lokal. Hal ini yang kerap menjadi alasan. Mafia pangan impor itu luar biasa. Mereka akan mendorong impor karena selisih harga yang cukup lebar,” ungkap Dwi.

 

Menurut Dwi Andreas, lonjakan impor tidak hanya terjadi pada beras, namun juga komoditas pangan pokok lainnya, seperti kedelai, jagung, gandum, dan daging sapi. Impor kedelai akan meningkat drastis dari tahun lalu. Sedangkan jagung, gandum, dan daging sapi, tidak jauh berbeda dengan 2014.

 

“Khusus kedelai akan sangat amburadul produksinya. Selagi harga pembelian pemerintah (HHP) masih Rp7.600 per kilogram (kg), produksi masih akan di bawah 1 juta ton. Di lapangan, realisasi HPP di bawah Rp7.000 per kg, padahal biaya produksi Rp 7.500 per kg,” kata Dwi.

 

Sepanjang Januari-Oktober 2014, impor beras mencapai 405 ribu ton senilai USD 179 juta, jagung sebanyak 2,6 juta ton senilai USD 691 juta, gandum sebanyak 6,49 juta ton senilai USD 2,17 miliar. Kemudian, kedelai sebanyak 5,02 juta ton senilai USD 2,99 miliar dan kacang tanah sebanyak 224,49 ribu ton senilai USD 255 juta.

 

Dwi Andreas mengatakan, tahun ini jebakan krisis pangan juga masih melanda Indonesia. Salah satu indikasi krisis pangan adalah terus meningkatnya impor dan Indonesia sudah mengalaminya. Selama 10 tahun terakhir, impor pangan pokok menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Komoditas beras misalnya meningkat hingga 480%. Di sisi lain, Kementan memperkirakan kebutuhan dana untuk mewujudkan swasembada gula dalam lima tahun ke depan sedikitnya mencapai Rp 50 triliun. Dana sebesar itu diperlukan untuk membangun 10 pabrik gula (PG) baru dan menyediakan lahan tebu.

 

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, untuk mengejar swasembada gula diperlukan pembangunan 10 PG baru dalam lima tahun ke depan. Untuk memenuhi target tersebut, sedikitnya dibutuhkan tambahan lahan 500 ribu ha. (Radarpena.com)