Jepang dan Karangasem Kembangkan Pertanian di Lahan Kering

Untuk mengoptimalisasi pengolahan lahan kering yang ada di Kabupaten Karangasem,Bali, khususnya menjadikannya pertanian tanaman pangan, Pemkab Karangasem menghadirkan beberapa pakar pertanian yang merupakan praktisi dari Jepang juga Bali, yang berkeinginan menanamkan modalnya di Bali, khususnya Kabupaten Karangasem.

 

Kehadiran para pakar pertanian ini berkat fasilitasi Profesor Deden dan Profesor Syamsudin yang merupakan guru besar bidang pertanian di Indonesia.


Rombongan diterima langsung Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri yang didampingi Sekdakab Karangasem I Gede Adnya Mulyadi, Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nyoman Mertha Tanaya dan SKPD terkait di jajaran Pemkab Karangasem, bertempat di Ruang Rapat Bupati, beberapa waktu lalu.


Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri menyambut baik dan sangat mengapresiasi akan kedatangan para pakar pertanian ini, apalagi dari Negara Jepang yang telah terkenal kemajuan teknologi di bidang pertanian organiknya yang nantinya ilmu dan teknologi pertanian yang dimiliki bisa diterapkan di Karangasem, yang akan membantu Pemkab Karangasem dalam mengetaskan kemiskinan melalui peningkatan penghasilan masyarakatnya dengan mengoptimalisasi pengolahan lahan kering yang ada di Kabupaten Karangasem menjadikannya pertanian tanaman pangan dalam arti luas.


”Salah satu peluang yang cukup besar, tetapi sering terabaikan adalah pemanfaatan lahan kering yang tersedia cukup luas di Kabupaten Karangasem dan secara teknis sesuai untuk pertanian lahan kering. Lahan potensial tersebut akan mampu menghasilkan bahan pangan yang cukup bila dikelola dengan menggunakan teknologi yang efektif dan strategi dalam pengembangannya yang tepat,” ujarnya.


Sekdakab Karangasem Gede Adnya Mulyadi mengatakan, Kabupaten Karangasem secara geografis alamnya merupakan 92 persen tanah lahan kering dan sisanya 8 persen lahan basah.


Pihaknya pun berharap dapat memanfaatkan lahan kering yang tersedia cukup luas itu untuk dikembangkan menjadi pertanian dalam arti luas.

 

”Kami sangat berterima kasih akan kedatangan para pakar pertanian dari Negara Jepang. Pemkab Karangasem selama ini telah menjalin kerjasama dengan Koperasi Tsukuba Jepang. Dan bila investor dari Jepang kali ini ingin menanamkan modalnya diKarangasem, pihaknya sangat mendukung, tapi di sektor pertanian, karena sektor lain seperti alat rumah sakit seperti bed tempat tidur, sudah banyak,”katanya.


“Pemkab. Karangasem sebagai fasilitator dalam hal ini, sedangkan pemilik tanahnya adalah masyarakat dan pemilik teknologinya dari pihak ketiga yaitu investor. Kami mengapresiasi maksud tujuan untuk menanamkan modalnya di Karangasem, seperti contoh membangun pabrik pengolahan salak diKarangasem, tapi berikan dulu konsep kerjasamanya akan kami pelajari bersama tim kerjasama daerah Pemkab Karangasem. Karena ada aturannya yaitu PP No 50 tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah,” ujarnya.


Profesor Deden menyampaikan sangat tertarik untuk menggarap dan mengembangkan lahan kering yang cukup luas diKarangasem dengan memanfaatkan teknologi pertanian yang ada.


”Pemanfaatan lahan kering untuk meningkatkan produksi bahan pangan masyarakat memerlukan perencanaan dan strategi yang tepat, yaitu: identifikasi lahan kering yang sesuai untuk pertanian, seleksi teknologi pengelolaan lahan kering yang tepat guna, diseminasi teknologi pengelolaan lahan kering secara intensif, peningkatan penelitian pertanian lahan kering dalam arti luas, terutama budi daya padi gogo, padi hitam, padi emas, palawija, ternak sapi dan tanaman buah semusim lainnya dalam sistem usaha tani terpadu,” katanya.

 

Seusai audensi para pakar pertanian dari Bali dan Negara Jepangdiajak meninjau lapangan, yaitu ke Desa Nampo dan bekas galian C yang ada di Karangasem.

 

(Tribunnews.com)