Kekeringan Ancam Keamanan Pangan

Produksi beras dunia diperkirakan akan mengalami penurunan terbesar pertamanya sejak 2010, akibat kekeringan parah yang melanda negara-negara produsen terbesar dunia. Kekhawatiran akan terganggunya ketahanan pangan dunia pun meningkat.

 

Fenomena El Nino yang melanda sejumlah kawasan di Asia terbukti menggerogoti hasil panen di India, Thailand dan Vietnam. Di Negeri Bollywood, gelombang panas membuat sejumlah wilayah kantong pertanian nasional terlanda kekeringan parah.

 

Sementara itu, negara pemasok beras nomor dua dunia yaitu Thailand, terpaksa harus mengalami fenomena kekeringan terbesarnya selama dua tahun berturut-turut. Tak ayal, kondisi ini membuat harga beras di Negeri Gajah terus naik selama sembilan bulan terakhir.

 

Hal yang sama pun terjadi di Vietnam. Kekeringan yang melanda sejumlah aliran irigasi dari Sungai Mekong, menyebabkan sebagian besar lahan pertanian di negara produsen beras terbesar ketiga dunia itu mengering.

 

Akibatnya stok beras dunia pun berkurang dengan cepat. Kondisi ini membuat para analis khawatir risiko kenaikan harga lanjutan akan terjadi pada Juni 2016. Pasalnya, tiga negara tersebut merupakan penghasil 60% beras dunia.

 

Ekonom International Grains Council (IGC) James Fell mengatakan bahwa belum terlihat lonjakan harga akibat cuaca panas dan kekeringan. Fell menyebutkan, berdasarkan risetnya, negara-negara seperti India dan Thailand masih memiliki cadangan dari hasil surplus panen dari periode sebelumnya, “Namun, kami tak yakin cadangan itu mampu mencukupi kebutuhan untuk jangka panjang," kata James Fell, ekonom di IGC.

 

Sementara itu, berdasarkan perkiraan dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat, persediaan beras dari tiga negara eksportir beras terbesar tersebut akan turun hingga 19 juta ton pada akhir tahun. Jumlah tersebut menjadi penurunan dari tahun ke tahun yang terbesar sejak 2003.

 

Para ekonom pun khawatir, gangguan akibat pasokan pangan dalam jumlah besar ini akan menimbulkan gejolak yang besar di tengah perlambatan ekonomi global saat ini. Berdasarkan pengalaman pada 2008, fenomena El Nino telah menyebabkan India menghentikan aktivitas ekspornya.

 

Alhasil, harga beras dunia pun meroket tajam dan membuat sejumlah negara importir beras seperti Haiti dilanda krisis pangan. Hal yang sama terjadi di Filipina. Di negara tersebut, aksi para spekulan beras telah membuat kepanikan masif terkait kekurangan pangan.

 

Pemerintah yang berkuasa saat itu pun meminta kepada tentara untuk mengawasi penjualan beras subsidi dan menangkap para pelaku penimbun beras. Manila pun mendesak agar Vietnam untuk menjual beras dengan jumlah yang lebih besar.

 

Kenaikan harga beras ini diperkirakan akan memengaruhi penjualan produk biji-bijian lainnya seperti gandum, kedelai dan jagung. Pasalnya, harga beras Thailand pada April 2016 telah melonjak menjadi US$389,5 per ton atau naik 13% sejak September yang mencapai US$344.

 

Namun, harga tersebut belum mencapai tingkat kritis, karena belum mampu melampaui harga tertingginya pada 2008 yang mencapai US$1.000 per ton.

 

Bruce Tolantino, analis dari International Rice Research Institute yang berbasis di Filipina mengaku prihatin dengan kerentanan pangan di Asia ini. Pasalnya, meskipun produksi beras India pada 2015 relatif stabil, fenomena El Nino berpeluang mengancam produksi Mumbai.

 

"Harga beras secara umum di India masih stabil sekarang. Namun potensi kenaikan sangat besar. Kekeringan akan menjadi bencana besar yang melanda salah satu negara penghasil beras utama ini," ujarnya.

 

Dia menambahkan, para pedagang beras memperkirakan, keuntungan yang didapat dari produksi beras awal India pada tahun ini hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Juni 2016. Dia tak yakin, porsi yang sama akan diperoleh oleh para pedagang pada periode pada akhir tahun ini.

 

Kementerian Pertanian AS memperkirakan pada tahun ini produksi beras Thailand akan turun lebih dari seperlima produksi tahun lalu, atau hanya mencapai 15,8 juta ton. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk mengurangi masa tanam berasnya.

 

"Pemerintah meminta petani untuk tidak menanam padi sebanyak tahun lalu, karena hanya ada sedikit air di waduk setelah dilanda kekeringan selama dua tahun terakhir," kata salah seorang pedagang yang berbasis di Bangkok.

 

Kementerian Pertanian AS juga memperkirakan, produksi beras Vietnam jatuh hingga 1,5% pada tahun ini menjadi 44,5 juta ton. Sementara itu, porsi untuk di ekspor akan turun hingga 8,7 juta ton pada 2016. Hal tersebut, menurut pemerintah Negeri Lumbung Padi, terjadi akibat 240.000 hektar lahan padi hancur akibat kekeringan dan berkurangnya pasokan air bersih dari Sungai Mekong.

 

Berkaca pada fenomena tersebut IGC memprediksi produksi beras dunia pada 2016 hanya akan mencapai 473 juta ton, turun dari 479 juta ton pada 2015.

 

Masalah tersebut kini merambat ke beberapa negara di Asia yang selama ini menjadi importir beras dari ketiga negara. El Nino terbukti telah membuat produksi beras di negara importir besar seperti China, Indonesia dan Filipina mengalami defisit.

 

Negara-negara tersebut pun telah mencanangan rencana untuk meningkatkan impor mereka. Indonesia memperkirakan pada 2016 kebutuhan impor akan meningkat lebih dari 60% dari tahun lalu.

 

China, yang menjadi importir beras terbesar dunia, juga berencana mengimpor 5 juta ton beras per tahun dari negara-negara produsen. Para ekonom pun memperkirakan, aktivitas impor tersebut akan kembali meningkat pada tahun ini.

 

Sementara itu, Filipina yang telah melakukan impor hingga 750.000 ton pada Maret 2016, juga telah merencanakan untuk kembali menambah impor hingga 500.000 ton hingga akhir tahun.

 

"Meskipun El Nino telah memasuki periode yang melemah, tapi risiko harga pangan yang lebih tinggi tetap akan muncul pada tahun ini," kata Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina Emmanuel Esguerra.

 

(Bisnis.com)