Padi Liar di Australia Utara Identik dengan Padi Budidaya

Hal itu terungkap dalam laporan hasil penelitian berjudul Hubungan antara Padi Liar dan Padi Budidaya (Oryza AA genome species) Berdasarkan Sekuensi Genetik yang dimuat dalam Jurnal Scientific Reports, beberapa waktu lalu.

 

Penelitian ini menyimpulkan bahwa varitas tanaman padi yang banyak dibudidayakan saat ini setidak-tidaknya memiliki kesamaan genetika dengan padi liar yang belum terkontaminasi di kawasan Cape York di Australia Utara.

 

Penulis laporan penelitian itu, Professor Robert Henry, yang juga direktur pada lembaga penelitian Queensland Alliance for Agriculture and Food Innovation (QAAFI), menyatakan berbagai jenis tanaman padi yang dibudidayakan di negara-negara Asia selama ribuan tahun mungkin saja berasal dari Benua Australia.

 

"Penelitian kami memastikan bahwa tanaman padi asli di Cape York memiliki hubungan yang penting dengan padi budidaya. Sangat mungkin ini adalah asal-usul padi budidaya," jelas Prof. Henry kepada ABC.

 

"Hasil analisa kami menunjukkan bahwa populasi padi di Australia utara sangat beragam secara genetis, jauh lebih banyak variasinya dibandingkan padi di Asia," jelasnya.

 

"Hal ini menggambarkan bahwa asal-usul padi berada di Australia utara, yang merupakan pusat keragaman dan asal spesis penting ini," tambah Prof. Henry.

 

Dalam analisisnya, para peneliti menghadapi masalah karena adanya fakta bahwa padi-padian telah dibudidayakan di Asia selama ribuan tahun, sehingga padi asli dan padi budidaya telah bersilangan.

 

"Namun hanya di Australia utara yang paling besar kemungkinannya padi asli belum bersilangan dengan padi budidaya," katanya.

 

"Para peneliti percaya bahwa populasi padi asli di Australia utara ini masih sama seperti padi yang ada sebelum manusia memulai budidaya padi 7 ribu tahun silam," papar Prof. Henry lagi.

 

Penelitian ini sendiri bertujuan untuk memahami sejarah genetika padi dan kaitannya dengan padi liar di Australia. Diharapkan, pemahaman yang lebih baik bisa dipergunakan dalam meningkatkan produksi beras dunia.

 

Menurut Prof. Henry kualitas bibit dari padi asli di Cape York ini sangat berharga.

 

"Kita bisa mengembangkan genetikanya untuk keperluan produksi beras di masa depan," katanya.

 

Selama ini, meskipun berlimpah air dengan iklim yang cocok, namun kawasan Australia utara kesulitan memposisikan dirinya sebagai pusat produksi beras.

 

Di tahun 1950an misalnya, pernah ada upaya mencetak kawasan persawahan di kawasan Adelaide River dekat Kota Darwin, namun gagal.

 

Kini, kawasan Burdekin di dekat Townsville, mulai beralih dari tanaman tebu ke tanaman padi, namun jumlah produksinya masih sangat minim.

 

Menurut Prof. Henry, kalangan industri pertanian bisa memanfaatkan varietas padi liar yang sangat cocok dengan kondisi setempat.

 

Ia menyarankan sebaiknya industri perberasan membudidayakan padi dengan tetap mempertahankan varietas padi liar.

 

Di pasaran saat ini harga beras dari varietas padi liar bisa mencapai 120 dolar (sekitar Rp 120 ribu) perkilogram.

 

(Elshinta.com)