Pertanian, Ekspor Naik Impor Turun

KEMENTERIAN Pertanian melaporkan kenaikan nilai ekspor produk-produk pertanian sepanjang Januari-September 2020 dan sebaliknya impor yang cenderung turun.


Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, kemarin, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Momon Rusmono memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statisitik (BPS), di periode Januari-September 2020 nilai ekspor komoditas pertanian mencapai US$21,10 miliar, yang terdiri atas pertanian segar sekitar US$2,34 miliar dan olahan pertanian mencapai US$18,76.


Nilai ekspor pertanian segar periode Ja­nuari-September 2020 tumbuh 11,97% (yoy). Begitu pula dengan nilai ekspor olahan pertanian yang tumbuh sekitar 5,68%.


“Pada 2020 subsektor perkebunan masih mendominasi ekspor komoditas pertanian, masing-masing berkontribusi 93% untuk produk ekspor komoditas segar dan 7,2% untuk produk ekspor olahan,” papar Momon.


Sebaliknya, nilai impor di tengah pandemi ini mengalami penurunan 10,37% dari tahun sebelumnya, yang sebelumnya mencapai US$6,51 miliar menjadi US$5,8 miliar.


Meski begitu, impor olahan pertanian masih menunjukkan adanya kenaikan. Yang terbesar berasal dari subsektor tanaman pangan, mencapai 52%. Adapun kontribusi olahan pertanian impor terbesar ada di subsektor perternakan (42%) dan perkebunan (31%).


“Secara spesifik, impor pertanian strategis Januari-September 2020 mengalami penurunan, di antaranya jagung yang volume impornya turun 15,11% menjadi 911.194 ton dengan nilai US$233,47 miliar,” jelas Momon.


Selain itu, impor komoditas ubi kayu juga turun menjadi 136.889 ton dengan nilai US$58.221, impor gandum juga turun jadi 8.009.607 ton dengan nilai US$2,1 juta, kedelai turun 5,7 juta ton, dan kakao sebanyak 189.000 ton dengan nilai US$505 ribu. Realisasi food estate Di kesempatan yang sama, Momon juga melaporkan realisasi olah lahan di kawasan food estate di Kalimantan Tengah.


Hingga November 2020, realisasinya sudah mencapai 63,4% atau 19.000 hektare dari target 30.000 hektare lahan yang harus diolah. “Diharapkan, pengolahan lahan ini sudah selesai pada akhir November ini,” katanya. Untuk penyiapan food estate, juga sudah tersalurkan sarana produksi (saprodi) pertanian benih padi untuk 24.195 hektare, dolomit untuk 25.500 hektare, dan pupuk NPK untuk 7.000 hektare.


Kementan juga tengah menyiapkan lembaga korporasi dan skema bisnis yang bisa diimplementasikan pada 2021.


“Selain food estate di Kalimantan Tengah, Kementan juga mengelola food estate di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, yakni hortikultura yang berbasis bawang merah, bawang putih, dan kentang. Masing-masing memiliki luas 5 hektare,” ungkap Momon.


Luas lahan food estate di Humbang Hasundutan yang tersedia telah mencapai 200 hektare, tapi masih difokuskan untuk penanaman bibit yang dikelola beberapa kelompok tani.


Dalam menanggapi laporan itu, Ketua Komisi IV DPR Sudin mempertanyakan target pengolahan 30.000 hektare food estate yang akan selesai akhir November 2020, sedangkan progresnya saat ini baru 19.000 hektare.


“Artinya dalam waktu 13 hari ke depan harus merampungkan sisa 11.000 hektare lahan. Mungkin enggak mencetak sawah untuk food estate bisa dilakukan dalam waktu singkat tersebut? Menurut saya, itu tidak masuk akal,” ungkapnya. (E-2)


mediaindonesia.com