Beras Impor Banjiri Gudang Bulog

Beras impor asal Vietnam membanjiri gudang milik Sub Divre Bulog Indramayu. Beras impor tersebut disimpan di sejumlah gudang dengan jumlah bervariasi.

 

Kasie Pelayanan Publik Sub Divre Bulog Indramayu Apip Wijaya mengatakan, di Kabupaten In dra mayu, terdapat 4.000 ton beras impor asal Vietnam.”Beras im por untuk menjaga stok beras yang ada. Mengenai pengguna an nya masih dipertimbangkan,” kata dia, kemarin.

 

Bulog Indramayu juga memastikan, karena masih ada penga daan dari hasil panen petani, beras impor dipastikan ti dak akan dikeluar kan dari gudang dalam waktu dekat ini.”Untuk kebutuhan raskin, kita akan pa kai hasil panen pe tani dari hasil penyerapan mitra-mitra Bulog di desa- desa,” sebutnya.

 

Ketua LSM Surya Dharma Besar Buntaran mengatakan, salah satu andalan perekonomian Kabupaten Indramayu saat ini ada lah bidang pertanian. Dengan luas lahan yang sangat besar dan mampu menghasikan pro duksi padi hingga 1,7 juta ton se tiap tahun, sangat naif jika Kabu paten Indramayu dikatakan se bagai daerah rawan pangan.

 

Adanya aktivitas bongkar muat beras impor Vietnam di Gu dang Singakerta II, Ke camatan Krangkeng, Kabupaten Ind ramayu, dianggap sebuah hal yang miris bagi daerah pemasok beras nasional seperti Ka bu pa ten Indramayu.”Kami sangat kecewa dengan pengiriman beras impor ini. Padahal, kita tahu Ka bupa ten Indramayu bukan wilayah rawan pangan,” tuturnya.

 

Dia menilai, kebijakan impor beras oleh pemerintah pusat meru pa kan implementasi dari program Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA) yang sudah mulai dijalankan saat ini. Namun, langkah pemerintah da lam menopang komitmen Indonesia dalam mewujudkan MEA melalui penerbitan Perpres Nomor 39/2014 tentang Daftar Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Per sya rat an di Bidang Penanaman Modal, dipandang hanya akan mem berikan keuntungan bagi pi hak-pihak tertentu, bukan petani Indonesia.

 

“Karena perpres tersebut meng atur investasi asing di perboleh kan hingga 49% untuk usaha budidaya tanaman pangan seluas lebih dari 25 hektare, maka pe luang sektor pertanian Indonesia yang masih tertinggal berdampak pada volume impor ko moditas pangan dan hortikultura. MEA sangat berdampak besar bagi petani dan rakyat kecil. Masuknya beras impor ini dipastikan mencekik harga gabah lokal nanti,”terangnya.

 

Menghadapi persaingan MEA, produksi pertanian di prediksi akan tersaingi oleh produkpro duk pertanian dari negara ASEAN lainnya. Produksi beras misalnya, diprediksi akan kalah bersaing dengan beras dari negara- negara tetangga seperti Viet nam dan Singapura. “Selain harganya lebih murah, kualitas dan kemasannya pun lebih menarik,” kata Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang.

 

Produksi pertanian juga dianggapnya belum siap menghadapi MEA.”Kalau tidak dapat berinovasi dalam produk, beras lokal akan ter gerus oleh beras impor dari negara- negara tetangga,” tegasnya seraya mengatakan, hal itu sebagai anca man serius bagi petani lokal.

 

(Okezone.com)