4.000 Ton Beras Impor Masuk 'Lumbung Padi' Indramayu

Sebanyak 4.000 ton beras impor masuk ke Kabupaten Indramayu dan tersimpan di gudang Bulog Indramayu. Para petani pun kecewa dan keberatan dengan kondisi tersebut.

 

Kepala Bulog Sub Divre Indramayu, Abdul Basit menjelaskan, beras impor sebanyak 4.000 ton itu merupakan beras cadangan nasional. Beras itupun hanya dimaksudkan sebagai stok pangan.

 

"Sekarang memang sedang panen, tapi kan kita belum tahu gimana hasilnya. (Beras impor) hanya sebagai stok saja," ujar Basit, saat ditemui Republika di sela kunjungan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Rice Center Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, belum lama ini.

 

Pada 2016, target pengadaan Bulog Sub Divre Indramayu mencapai 110 ribu ton. Memasuki akhir Maret 2016, target realisasi baru tercapai kurang lebih 4.000 ton. Realisasi pengadaan rata-rata baru sekitar 500 ton per hektare.

 

Masih minimnya target pengadaan Bulog itu dikarenakan masih sedikitnya luas panen. Untuk mencapai target tersebut, ada tiga satker dan 40 mitra untuk melakukan penyerapan gabah.

 

"(Meski target pengadaan belum tercapai), tapi stok raskin kita cukup untuk lima bulan kedepan," terang Basit.

Setiap bulan, Bulog Indramayu menyalurkan kebutuhan raskin di Kabupaten Indramayu sebanyak 2.600 ton.

 

Terpisah, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, saat dimintai tanggapannya, mengaku kecewa dengan adanya beras impor yang masuk ke gudang Bulog Indramayu.

 

"Sebagai perwakilan petani, jelas saya sangat keberatan," terang Sutatang kepada Republika, Kamis (31/3).

 

Sutatang menyatakan, para petani di Kabupaten Indramayu saat ini baru memulai panen raya musim rendeng MT 2015/2016. Puncak panen raya bahkan diperkirakan masih akan terjadi hingga Mei 2016.

 

Itu berarti, stok gabah di tingkat petani akan berlimpah. Tanpa harus mendatangkan beras impor, produksi beras dari petani di Kabupaten Indramayu pun sudah surplus.

 

"Dengan adanya beras impor, bisa membuat harga gabah petani menjadi turun," tutur Sutatang.

 

Sutatang menambahkan, jika Bulog beralasan impor beras itu untuk stok, maka seharusnya stok tersebut berasal dari beras petani lokal. Namun caranya, Bulog harus membeli gabah/beras dengan harga yang sama dengan harga lapangan.

 

Saat ini, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani masih sekitar Rp 4.200 per kg. Sedangkan berdasarkan harga pembelian pemerintah (HPP), GKP hanya Rp 3.700 per kg.

 

"Kalau Bulog menyerap gabah petani dengan harga yang sama seperti di lapangan, pasti akan mudah melakukan penyerapan tanpa harus mendatangkan beras impor," tegas Sutatang.

 

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, realisasi luas tanam rendeng MT 2015/2016 mencapai 127 ribu hektare. Dari jumlah itu, luas areal yang sudah panen sekitar 35 ribu hektare.

 

Lahan yang sudah panen itu tersebar di 12 kecamatan. Di antaranya Kecamatan Cikedung, Terisi, Kroya, Gabuswetan dan Gantar.

 

(Republika)