Cegah Impor, Bulog Diminta Tingkatkan Serapan Gabah

JAKARTA -- Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) meminta Perum Bulog meningkatkan penyerapan gabah. Hal itu sebagai antisipasi paceklik beras yang biasa dimulai pada September.


Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah, mengatakan, musim tanam gadu memiliki risiko yang lebih besar daripada musim tanam rendeng. Karena itu, peran Bulog diperlukan sebagai penguat cadangan stok beras. Terlebih, cadangan beras Bulog menjadi salah satu pertimbangan impor beras.


"Bulog harus diperkuat lagi perannya, jangan sampai lengah sedikit walaupun produksi gabah tetap ada," kata Said kepada Republika.co.id, Senin (13/7).


Said mengatakan, indikator utama dibukanya keran impor beras yakni pergerakan harga pasar yang terus merangkak naik. Tanpa diimbangi ketahanan stok beras di gudang Bulog, pemerintah dapat membuka kebijakan impor. Namun, jika Bulog memiliki stok memadai, tentunya dapat lebih leluasa melakukan stabilisasi harga.


Ia menambahkan, kalaupun nantinya Indonesia membutuhkan impor beras, mencari negara eksportir dalam situasi saat ini tidak mudah. Jika ada, Said menilai harga beras akan jauh lebih mahal dari tahun lalu. "Ini agak riskan karena harga beras dunia trennya naik sejak 2019," kata Said.


Mengutip data indeks harga beras dunia Food and Agriculture Organization (FAO) rerata harga beras sepanjang Juni 2020 sebesar 114,8 poin. Angka itu lebih rendah dari posisi Mei 2020 yang mencapai 115,8 poin. Namun, jauh lebih tinggi dibandingkan Juni 2019 yang hanya 100,7 poin.


Adapun, data terakhir Bulog, posisi cadangan stok beras masih di kisaran 1,3 juta ton hingga 1,4 juta ton. Bulog mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk menjaga stok beras pada level satu juta ton hingga 1,5 juta ton. Sementara, realiasi pengadaan gabah/beras hingga 13 Juli 2020 telah mencapai 788 ribu ton atau 56,1 persen dari target pengadaan beras 1,4 juta ton.


(republika.id)