Filipina, Malaysia, dan Vietnam Juga Risaukan MEA

Kendati sudah mulai diterapkan sejak 1 Januari 2016 lalu, kesiapan negara-negara Asia Tenggara menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN belum merata. Para pemain besar di regional memiliki kekhawatirannya masing-masing terhadap kesepakatan perdagangan terbuka di kawasan ini. 

 

Di Filipina, sektor pertanian yang menyuarakan kekhawatiran atas berlakunya MEA. Otoritas Statistik Filipina melaporkan, produksi sektor pertanian Filipina mengalami penurunan sebanyak 0,1 persen pada kuartal ketiga tahun lalu. Penurunan itu disumbang penurunan produksi beras sebesar 15,7 persen, jagung sebesar 1,7 persen, dan tebu sebesar 41,5 persen.

 

Senator Ferdinand Marcos Jr mengatakan, posisi para petani di Filipina sangat rentan terdampak MEA. Terlebih, MEA tak lagi memperbolehkan subsidi pertanian dan pembatasan impor hasil tani.

 

"Kami sudah melihat dampak impor tak terbatas dan penyelundupan hasil tani seperti beras, bawang putih, dan bawang merah. Dengan penghapusan tarif impor, para petani akan semakin menderita," kata Marcos Jr seperti dikutip Manila Times. Ia mengakui, perusahaan perkebunan dan pertanian besar bisa mendapat untung dengan berlakunya MEA. Para petani kecil kian menderita.

 

Sedangkan, di Malaysia, para pegiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tak membagi optimisme soal penerapan MEA. Menurut jajak pendapat yang dihelat Asosiasi Kamar Dagang Tiong Hoa Malaysia (ACCCIM), sebanyak 68 persen pengusaha kecil tak yakin MEA bisa membawa keuntungan bagi mereka.

 

Presiden ACCCIM Ter Leong Yap mengatakan, pasar ASEAN memang menyediakan kesempatan bagi perusahaan-perusahaan di Malaysia untuk melebarkan pasar. Meski begitu, mereka juga mesti mewaspadai arus masuk produk-produk dari luar yang akan memunculkan persaingan yang lebih ketat.

 

Perusahaan-perusahaan di Singapura juga tak gegap- gempita menyambut berlakukan MEA tahun ini. Perusahaan pengepakan daging Golden Bridge misalnya, belum akan memasok produk ke negara-negara ASEAN dalam waktu dekat.

 

Direktur Manajer Golden Bridge Ong Bee Chip mengatakan, ia lebih memilih mengirimkan produknya ke Korea Selatan sebelum mulai memasuki pelabuhan-pelabuhan di Vietnam, Filipina, atau Indonesia. Ia menilai MEA belum akan menghilangkan halangan-halangan perdagangan antarnegara ASEAN dalam waktu dekat.

 

(Republika)