Asia Terancam Krisis Pangan, Benua Kuning Butuh Rp 11 Ribu T

Asia akan menghadapi krisis pangan dan membutuhkan dana sebesar US$ 800 miliar atau sekitar Rp 11 ribu triliun (kurs Rp 14.000/dolar) untuk investasi pangan 10 tahun ke depan. Upaya ini diperlukan agar wilayah ini dapat memenuhi kebutuhan pangannya.

Menurut Asia Food Challenge Report salah satu alasan Asia kekurangan pangan adalah meningkatnya populasi di wilayah ini. Laporan itu juga menyebut konsumen Asia menginginkan makanan yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan (sustainable).

"Jika investasi ini tidak terwujud, kami percaya industri akan kesulitan untuk memenuhi permintaan, dan menghasilkan makanan yang lebih buruk untuk populasi Asia," kata laporan yang disusun oleh PwC, Rabobank, termasuk perusahaan investasi Singapura Temasek itu.

"Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, mengandalkan impor yang mengalir melalui rantai pasokan dari Amerika, Eropa, dan Afrika."

Hasil laporan itu sama dengan hasil penelitian yang tertuang dalam laporan Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB tahun 2018.

"Secara umum, negara-negara di Amerika Latin, Afrika Timur dan Asia Selatan adalah pengekspor makanan bersih, sementara sebagian besar negara Asia dan Afrika lainnya tetap menjadi pengimpor pangan bersih," tulis laporan itu lagi.

Menurut laporan Asia Food Challenge Report, pengeluaran untuk makanan akan melonjak lebih dari dua kali lipat di wilayah ini pada tahun 2030. Yaitu dari US$ 4 triliun pada 2019 menjadi lebih dari US$ 8 triliun.
Selain meningkatnya populasi, lembaga itu menyebut alasan lain penyebab krisis pangan di Asia. Di antaranya adalah perubahan iklim yang dapat membuat pasokan menjadi bermasalah dan harga melonjak.

"Jumlah lahan subur untuk setiap orang di Asia juga diperkirakan akan menurun 5% pada tahun 2030," tambah Richard Skinner, pemimpin strategi dan operasi PwC untuk wilayah Asia Pasifik.

"Kita terlalu bergantung pada negara lain untuk teknologi dan makanan kita. Dan jika kita tidak menyelesaikan ini, akam ada masalah di hadapan kita."

Ia berujar hal ini harus diselesaikan segera. Bila tidak, situasi akan memburuk 10 tahun mendatang.

Skinner mengatakan bahwa dana senilai US$ 800 miliar itu bisa diinvestasikan ke sektor industri pangan pertanian Asia. Utamanya dalam hal teknologi dan inovasi, yang adalah kunci untuk masalah ini.

(cnbcindonesia.com)