RI Ekspor Terigu Rp 8,7 T, Paling Banyak ke Papua Nugini dan Timor Les

RI Ekspor Terigu Rp 8,7 T, Paling Banyak ke Papua Nugini dan Timor Leste,  Produk yang diekspor, mencakup tepung terigu, dedak gandum, dan aneka produk turunan seperti pasta, mi instan, biskuit, kue, dan pastri. Seorang pekerja sedang mengangkut karung berisi tepung terigu di sebuah gudang di Pekanbaru, Riau.

Indonesia saat ini masih memiliki ketergatungan tinggi terhadap bahan baku tepung terigu yakni gandum impor. Antara Foto/FB Anggoro Ilustrasi tepung terigu. Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia atau Aptindo mencatat ekspor industri terigu dan turunannya mencapai Rp 8,7 triliun hingga September 2019. Produk yang diekspor, mencakup tepung terigu, dedak gandum, dan aneka produk turunan seperti pasta, mi instan, biskuit, kue, dan pastri. ā€œProduk turunan yang diekspor tersebut dihasilkan oleh berbagai perusahaan industri berbasis tepung terigu,ā€ kata Ketua Umum Aptindo Franciscus Welirang di pabrik PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari, Jakarta, Rabu (27/11).

Franky mengatakan, nilai ekspor yang paling besar berasal dari aneka produk turunan berbahan dasar tepung terigu, seperti pasta, biskuit, mi instan, cake, wafer, pastri, dan lainnya. Adapun negara tujuan ekspor terbesar adalah Papua Nugini, Timor Leste, dan Vietnam. Ekspor juga dilakukan ke Singapura, Myanmar, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Thailand, Tiongkok dan lainnya. (Baca: Pemerintah Gandeng Tiongkok Jamin Keamanan Ekspor-Impor Perikanan) Dari keseluruhan ekspor tesebut, kontribusi ekspor terbesar kedua adalah dedak gandum. Hingga September 2019, ekspor dedak gandum mencapai 267.848 ton dengan nilai US$ 50.810 miliar atau sekitar Rp 711 miliar. Produk akhir dari dedak gandum, mencakup pellet, pollar, dan bran, yang merupakan pakan ternak.

 

Sementara itu, nilai ekspor tepung terigu nasional mencapai Rp 207 miliar. Franky mengatakan, meski industri terigu nasional menggunakan bahan baku berupa gandum impor, industri tetap berkomitmen untuk ekspor dalam berbagai produk. Industri terigu juga disebut mendorong penciptaan lapangan kerja lantaran merupakan produk antara yang harus diolah. Pengolahan makanan berbasis terigu mendorong pelaku usaha mulai dari level industri hingga UKM. "Seperti halnya Bogasari yang mayoritas pelanggannya atau sekitar 65% adalah UKM makanan berbasis tepung terigu," kata Franky yang juga menjabat sebagai sebagai Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk divisi Bogasari Flour.

Ia juga menyebut terigu tidak menjadi komoditas yang berdiri sendiri. Dalam proses pengolahannya, terigu mendongkrak konsumsi komoditas pertanian seperti sayuran, cabai, tomat, aneka bawang, dan kentang. Franky mengatakan, Bogasari telah mengekspor tepung terigu, pasta dan produk sampingan sebesar 230.162 ton atau senilai Rp 763,6 milliar hingga September 2019.

 

Dari jumlah tersebut, ekspor terbesar merupakan produk sampingan Rp 590,5 miliar. Hingga Desember 2019, Bogasari memperkirakan ekspor produk sampingan berupa wheat bran pellet mencapai 303,206 ton atau US$ 56,65 juta. Ekspor dilakukan ke Filipina Jepang, Vietnam, Korea, Thailand, Tiongkok, dan Timur Tengah.

(katadata.co.id)