Beras Indonesia Lebih Mahal Daripada Beras Thailand, Vietnam, atau India

Tak sedang bercanda, Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Bustanul Arifin bilang, harga beras di Indonesia adalah yang termahal di dunia. 

 

"Dengan kondisi ini, membuat negara-negara produsen beras, berlomba-lomba ingin memasukkan berasnya ke Indonesia," kata Bustanul saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk 'Desain Kebijakan Perberasan Dalam Rangka Mendorong Peningkatan Produksi Padi, Daya Saing Usaha Tani Padi dan Kesejahteran Petani' di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

 

Menurut Bustanul, mahalnya harga beras di negeri ini, merupakan sebuah ironi. Di mana, pemerintah terus meningkatkan alokasi untuk subsidi pupuk dan subsidi benih.

 

Kata Bustanul, harga beras kelas premium rata-rata di Indonesia mencapai Rp 12 ribu per kilogram, sementara beras medium sebesar Rp 10 ribu per kg.

 

Bandingkan dengan harga beras di negara-negara produsen beras, seperti Thailand, Vietnam, ataupun India berkisar 350-400 dolar AS per ton. Jika dikirim ke Indonesia, ada ongkos kirim dan ongkos angkut, estimasinya sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per kg.

 

"Mana bisa kita bersaing dengan menolak impor. Mereka yang lebih murah akan mengalirkan beras ke tempat yang lebih mahal. Pasar kita menarik bagi mereka," kata Bustanul yang juga Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Lampung ini.

 

Bustanul menduga, masih tingginya harga beras di Indonesia, disebabkan karena ekonomi biaya tinggi serta kemungkinan adanya kebocoran subsidi pupuk maupun benih.

 

Subsidi pupuk yang dicanangkan pemerintah pada 2015, menurut Bustanul, dianggarkan mencapai Rp 39,5 triliun. Kenyataan di lapangan, harga pupuk bersubsidi masih mahal berkisar Rp2.200 per kg, padahal seharusnya bisa mencapai Rp1.950 per kg. "Untuk benih juga disubsidi di atas Rp1 triliun, ternyata mencari benih sampai sekarang masih susah," kata Bustanul.

 

Karena itu, Bustanul berharap agar pemerintah dapat mengevaluasi kembali upaya peningkatan produktivitas beras. Sehingga Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, tidak hanya menjadi pasar bagi negara-negara produsen beras lainnya.

 

"Saya tidak rela Indonesia yang sebesar ini cuma dijadikan pasar. Kita harus mampu memproduksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri kalau bisa kita ekspor," kata Bustanul.

 

Kepala Sub-Bidang Irigasi dan Rawa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Wasito Hadi mengatakan, tingginya harga beras di Indonesia disebabkan beras yang beredar kebanyakan adalah beras premium. Sementara, untuk memproduksi beras medium, susah dilakukan karena mutu gabah beras petani rendah, akibat dampak El Nino.

 

"Beras medium yang dicari Bulog kan minimal kadar airnya 25 persen, sementara karena dampak elnino kadar airnya menjadi di bawah 20 persen, sehingga harus digiling menjadi beras premium," kata dia.

 

Selain itu, lanjut Wasito, tingginya harga beras juga disebabkan faktor skala usaha tani yang masih rendah dengan rata-rata luas lahan 0,2-0,3 hektar. Padahal seharusnya, menurut dia, luas lahan pertanian idealnya minimal 2 hektar yang paling tidak dapat digarap secara berkelompok.

 

Di samping itu, kebanyakan masih menggunakan cara tradisional dan belum menerapkan penggunaan teknologi pertanian. Mengacu hasil analisis Badan Pusat Statistik (BPS), 48% ongkos produksi di Indonesia dihabiskan untuk biaya tenaga kerja.

 

"Kalau saja dengan sistem mekanisasi dengan skala usaha minimal 2 hektar dengan digarap secara berkelompok mungkin akan lebih efisien," kata dia.

 

(Berita Jatim)