Wabah ASF di Cina & Potensi Pasar Ekspor Daging Babi bagi Indonesia

Sebuah video yang tayang di South China Morning Post (SCMP) beberapa pekan lalu sempat membuat Cina geger. Video berdurasi 1 menit 2 detik itu menampilkan seorang lelaki paruh baya tengah mencuri sepotong daging babi dan memasukkannya ke saku celana.
Aksi sang pria terekam CCTV di sebuah pasar di Provinsi Sichuan, barat daya Cina. Pencurian terjadi saat sang penjual tengah melayani pembeli lain. Warganet Cina pun ramai mengomentari pencurian tersebut. Pasalnya, pencurian itu terjadi di tengah melonjaknya harga daging babi di Cina hingga 50 persen.

"Harga daging babi benar-benar membuatku takut. Ketika saya datang beberapa hari yang lalu ke sini, harga iga babi 16 yuan untuk setengah kilo. Hari ini naik menjadi 25 yuan," teriak seorang pelanggan berusia 60 tahunan di Xinfadi, pasar daging grosir terbesar di Beijing, Cina masih dari SCMP.


Sudah sejak Juli 2019, warga Cina mengeluhkan kenaikan harga daging babi yang mencapai dua kali lipat. Rekor tertinggi menyentuh 33 yuan per kilogram, mengalahkan harga tertinggi sebelumnya senilai 31,56 yuan per kg pada Juni 2016, menurut Departemen Pertanian dan Urusan Pedesaan Cina.

Lonjakan harga ini terjadi karena merebaknya African Swine Fever (ASF) yang melanda sejak Agustus 2018. Akibatnya, mengutip BBC dan Food and Agriculture Organisation (FAO), 1,2 juta ekor babi dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran virus. Stok babi hidup pun menipis menjadi hanya 32,2 persen per Juli 2019.

Minimnya pasokan dan tingginya harga daging babi di Cina diperkirakan sejumlah analis masih akan berlangsung sampai akhir tahun dan Januari 2020 bertepatan dengan Tahun Baru Imlek. Hal ini karena daging babi secara tradisional merupakan hidangan utama saat perayaan hari besar seperti akhir tahun dan Tahun Baru Imlek, serta merupakan daging paling populer di konsumsi oleh masyarakat Cina.

Setiap individu Cina setidaknya mengonsumsi sekitar 55 kg daging babi per tahun, berdasarkan hitungan lembaga riset ekonomi Caixin Global, dilansir SCMP. Setidaknya, 700 juta ekor babi disembelih di Cina setiap tahunnya.

Banyak Negara Terjangkit

Wabah ASF ini telah menyebar ke sejumlah negara Asia, termasuk ASEAN. Jepang telah memusnahkan 753 babi di Prefektur Saitama utara Tokyo setelah mendeteksi wabah seperti diberitakan surat kabar Yomiuri, dilansir Reuters.

ASF kembali melanda Jepang pada 2018 setelah hilang selama 26 tahun terakhir. Wabah itu kembali ditemukan di sebuah peternakan babi di Prefektur Gifu, Jepang tengah. Dilaporkan Japan Times, infeksi juga ditemukan di enam prefektur lain seperti Aichi, Nagano, Fukui, Mie, Osaka, dan Shiga.

Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan melakukan karantina di seluruh bandara dan pelabuhan Jepang, dan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap turis asing dan WN Jepang yang kembali dari luar negeri untuk memastikan tidak membawa barang terkontaminasi ASF.

"Siapapun yang melanggar hukum dapat didenda hingga 1 juta yen (setara USD71.400) atau dipenjara hingga tiga tahun," jelas Pejabat Departemen Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang Yunosuke Yanagi, dilansir SCMP.

Dilaporkan BBC, Vietnam menjadi negara ketiga di Asia yang terserang ASF setelah Cina dan Mongolia. Wabah telah menyebar ke-63 kota dan provinsi. Pemerintah menjanjikan kompensasi bagi para peternak yang memusnahkan babi mereka sebesar 80 persen dari harga pasar. Produksi babi Vietnam diperkirakan turun 10 persen tahun ini.

Daging babi menyumbang tiga perempat dari konsumsi daging masyarakat di Vietnam. Sebanyak 4,5 juta babi di seluruh Vietnam telah dimusnahkan, berdasarkan data FAO, masih dari BBC. Negara-negara lain yang telah terinfeksi dan memusnahkan babi di antaranya adalah Laos, Filipina, Mongolia, dan Kamboja. Banyaknya babi yang dimusnahkan masing-masing sebanyak 25.000 ekor, 7.000 ekor, 3.115 ekor, dan 2.400 ekor.

Di belahan dunia lain, Pemerintah Australia juga terus melakukan pencegahan terkait wabah ASF mengingat negari kanguru itu banyak mengonsumsi daging babi. Menteri Pertanian Federal Australia Bridget McKenzie mengatakan, ASF menyebar dengan cepat dan parahnya belum ada obat atau vaksin untuk ini.

"[Wabah ASF] tidak mengancam kesehatan manusia, namun membunuh 80 persen babi yang terinfeksi," ucap McKenzie.

"Kami [Pemerintah Australia] perlu memastikan bahwa kami melakukan semua yang kami bisa untuk mencegah penyakit ini agar kami dapat melindungi 2.700 produsen babi di Australia, 36.000 pekerjaan yang bergantung pada bisnis mereka, dan jutaan warga Australia yang menikmati makanan daging bacon dan babi yang aman dan berkualitas tinggi."

 

Peluang Ekspor Babi Indonesia

Berkurangnya stok babi karena pembantaian massal membuat Cina membuka keran impor dari berbagai negara, seperti Denmark dan Brasil. "Cina adalah pasar ekspor keenam terbesar Denmark," ucap Menteri Pangan Denmark Mogens Jensen, dilansir SCMP.

Daging babi beku asal Denmark akan diolah menjadi produk babi dalam kemasan, sosis dan juga bacon di pabrik Danish Crown yang baru dibuka dekat Shanghai, mengutip Reuters. Pabrik ini memproduksi daging babi kemasan untuk konsumen kelas menengah atas untuk wilayah Shanghai dengan penjualan melalui Alibaba dan layanan e-commerce lainnya.

Ibarat durian runtuh, Brasil juga kebanjiran order ekspor daging babi ke Cina karena ada penambahan lisensi ekspor bagi 25 pabrik pengemasan daging babi Brasil, dilansir Reuters. Kementerian Brasil mengatakan, ekspor daging babi Brasil ke Cina melonjak 48 persen dalam delapan bulan pertama di 2019. Cina merupakan pasar ekspor terbesar Brasil untuk daging sapi, ayam dan babi.

Sayangnya, peluang ekspor babi ke Cina ini belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh Indonesia. Padahal, Indonesia termasuk satu dari sedikit negara yang terbebas dari virus ASF. Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum serius memperhatikan peternakan babi yang sebenarnya merupakan salah satu potensi penghasil devisa.

Hari Suyasa, Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) yang bermarkas di Bali mengungkapkan, pihaknya sudah mendapat permintaan ekspor daging babi kemasan dari Cina sejak tahun lalu. Namun, Hari mengakui, pihaknya tidak dapat memenuhi permintaan ekspor tersebut lantaran belum bisa memenuhi berbagai persyaratan.

"Persyaratannya lumayan berat dan itu belum siap dipenuhi oleh peternak babi di Indonesia," ungkap Hari kepada Tirto.

Menurut Hari, hingga saat ini, belum ada rumah potong hewan (RPH) babi di Indonesa yang mempunyai kemampuan untuk melayani pasar ekspor. Peternakan babi selama ini hanya dipandang sebelah mata sehingga tidak ada perhatian dari pemerintah untuk menggarap potensi dan pasar ekspor daging babi.

"Sekarang pasar ekspor babi Indonesia di Singapura sudah dikalahkan oleh Malaysia yang memang pemerintahnya punya perhatian untuk peternakan babi," sebut Hari.

Selain itu, GUPBI mengaku juga masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging babi dalam negeri. Jika pihaknya memilih untuk ekspor, dikhawatirkan akan terjadi lonjakan harga daging babi di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah dengan tingkat konsumsi daging babi tinggi seperti Bali.



Direktur Kesehatan Hewan Kementan Fadjar Sumping Tjatur Rassa tak memungkiri bahwa kendala persiapan terutama ketersediaan produksi dan akses pasar ekspor untuk komoditas babi di Indonesia masih menjadi kendala.

"Karena sebelumnya peternak babi di Indonesia hanya menargetkan ekspor ke Singapura saja," ungkap Fadjar kepada Tirto, sembari menambahkan bahwa saat ini ekspor babi ke Singapura baru berasal dari Pulau Bulan di Batam.

Pangsa pasar daging babi di pasar dalam negeri juga masih tinggi. Dengan begitu, banyak peternak yang juga ingin memaksimalkan pemenuhan kebutuhan konsumsi daging babi di Indonesia. "Karena itu, masih terbatas jumlah peternak babi yang berorientasi ekspor. Karena memang pasar daging babi dalam negeri masih bagus," tukas Fadjar.

Catatan Kementerian Pertanian (Kementan) (hlm. 54-55) menyebut Indonesia mampu mengekspor babi ternak cukup besar dibanding impor sehingga mengalami surplus perdagangan sejak 2014 hingga 2016. Pada 2017, ekspor babi ternak mencapai 28 ribu ton dengan nilai mencapai USD59,9 juta. Untuk impor di tahun yang sama belum terdapat catatan.

Populasi babi potong atau babi ternak di Indonesia juga naik menjadi 8,3 juta ekor pada 2017 atau naik 4,52 persen dibanding 2016. Pada 2018, angkanya juga diperkirakan meningkat menjadi 8,5 juta ekor.