Lampaui Ekspor, Impor Tanaman Pangan Semester I Tembus Rp 35,5 T

Jagung menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, Ekspor beras, jagung, kacang tanah, ubi jalar, dan lainnya mencapai US$ 12 juta ke 29 negara.

 

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, impor tanaman pangan segar sepanjang semester I 2019 mencapai Rp 35,5 triliun. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding torehan ekspor tanaman pangan yang mencapai US$ 12 juta atau sekitar Rp 171 miliar pada Januari-Juni 2019.


Adapun secara volume, ekspor beragam komoditas tanaman tersebut mencapai 14,9 ribu ton, jauh tertinggal dibanding impor yang tercatat sebesar 8 juta ton.


Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Suwandi mengatakan pihaknya berkomitmen terus mendorong ekspor. Karena, ekspor komoditas pangan segar Indonesia telah menembus hingga 29 negara.


"Ekspor beras, jagung, kacang tanah, ubi jalar, dan lainnya mencapai US$ 12 juta ke 29 negara," kata dia di Jakarta, Senin (12/8).


Dari 10 komoditas pangan yang diekspor, volume terbesar dicatat oleh komoditas ubi jalar (4.856 ton), kacang hijau (3.378 ton), kedelai (2.831 ton), dan talas (1.910 ton). Adapun, ekspor ditujukan untuk beberapa negara, seperti Jepang, Hongkong, Korea, Tiongkok, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Arab Saudi.


Selain komoditas tadi, Kementan juga mencatat beberapa komoditas potensial yang bisa didorong untuk ekspor, contohnya beras organik, ketan hitam, beras premium, dan beras tarabas. Kemudian, kacang hijau, talas, ubi jalar, dan janggel jagung.


Sedangkan untuk komoditas impor, berdasarkan catatan Kementan, impor berasal dari kelompok komoditas tanaman pangan lainnya sebesar 5,8 juta ton atau US$ 1,6 miliar. Adapun impor terbesar lain, berasal dari komoditas kedelai (1,31 juta ton), jagung (580 ribu ton), dan kacang tanah (186 ribu ton).


Impor kelompok ini berasal dari beberapa negara, beberapa seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea, Tiongkok, Thailand, hingga Malaysia.


Direktur Amerika II Kementerian Luar Negeri, Darianto Harsono, menjelaskan, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dan pemasok bahan pangan ke wilayah Amerika Selatan. Kunjungan Presiden Argentina ke Indonesia membawa angin segar di wilayah kawasan amerika lainnya, khususnya untuk produk pangan organik yang sangat diminati warga Amerika Selatan. Kemenlu mendorong dan mengoptimalkan seluruh potensi untuk mendorong agar peningkatan ekspor komoditas pertanian terus meningkat.


"Dalam 3 tahun terakhir data menunjukkan peningkatan yang signifikan dan ini akan kita dorong terus, dengan menampilkan produk pertanian berlabel healty," katanya.


(Katadata.co.id)