DI SULBAR, MENTERI AMRAN TEGASKAN PERANGI IMPORTIR PANGAN

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman siap perangi para importir yang kerap memaksa pemerintah impor pangan dari negara lain. Bagi Amran, impor hanya akan melemahkan petani dalam negeri.‎


"Impor tidak boleh lagi seenaknya masuk karna impor hanya akan perkuat petani negara lain sementara ekspor perkuat petani kita," tegas Menteri Amran saat bertemu dengan unsur Pimpinan Daerah Propinsi Sulawesi Barat (Sulbar) di Kantor Gubernur Sulbar, Mamuju, Senin (14/2).

‎Menteri Amran sadar, keputusannya untuk mengurangi impor pangan membuat sejumlah para importir gelisah sehingga menyebabkan situasi dalam negeri menjadi gaduh. Dia pun menegaskan siap menabuh genderang perang pada pihak-pihak yang tidak senang dengan kebijakannya tersebut.

‎"Memang agak gaduh, wajar. Tapi beritahu pada para mportir jangan coba-coba ubah prinisip kami. Tidak akan bergeser sejengkalpun dari kebijakan yang kami keluarkan," tegasnya.

Menteri Amran pun menginstruksikan pada seluruh jajarannya bersama unsur pimpinan di Propinsi Sulawesi Barat agar hendaknya setiap kebijakan berpihak pada rakyat. "Pengusaha belakangan, dahulukan petani kecil," katanya.

‎Kementerian Pertanian, lanjut Menteri Amran, saat ini tengah fokus pada 11 komoditas strategis diantaranya padi, jagung, kedelai, sapi, ayam, dan lainnya. Hanya saja, dia mengeluhkan jerih payahnya mengangkat produksi pertanian utamanya beras ternyata kurang mendapat apresiasi.

‎"Sebab yang seksi itu kalau produksi turun. Sering kami diskusi, baru 6 bulan bergerak Badan Pusat Statistik (BPS) katakan semua komoditas naik, tapi ada akademisi, pakar, tidak tahu agendanya apa, malah ragukan data BPS. Tapi kalau angkanya turun dianggap sudah benar. Mau dibawa kemana negeri ini?" heran dia.

‎Menteri Amran pun tidak habis pikir, data BPS yang semestinya bisa jadi rujukan dalam pengambilan kebijakan malah diperdebatkan validitasnya. "Data BPS diperdebatkan, tapi ternyata pengamat salah satu konsultan importir. Mengamati karna punya kepentingan," sesal dia.

‎Bahkan yang tidak habis pikir, sambung Amran, ada pengamat yang bersurat langsung ke Presiden Joko Widodo bahwa nilai tukar petani alias NTP saat ini turun. Karena surat itupula, dirinya dipanggil Presiden jelaskan kenapa bisa NTP turun.

‎"Padahal NTP naik 4,5 persen. Holtikultura naik, memang ada yang turun tapi itu perkebunan. Itu turun karena harga CPO (kelapa sawit) dan karet turun drastis sementara ekspor kita capai 650 triliun dari CPO. Tapi seolah-olah dia lebih tahu dari mentan. Jadi bayangkan kalau pemerintah ambil kebijakan karena opini, kasihan petani kita," ujarnya.

‎Menteri Amran juga meminta para pengusaha tidak terlalu banyak dalam ambil untung tata niaga pangan di negeri ini. Amran menghitung ada sekitar Rp 297 triliun yang masuk ke kantong pengusaha. Mirisnya, petani hanya menikmati seperseribu dari keuntungan petani di seluruh Indonesia.

‎"Saudaraku pengusaha, kalau ada, tolong keuntungannya jangan terlalu banyak. Karna keuntungan besar ini anda memperlemah diri anda sendiri. Tahu, middleman (pedagang perantara) keuntungan Rp 297 trilun dari tata niaga jagung, kedelai, padi. Itu dibagi hanya 60 ribu-100ribu orang sementara petani Rp 87 triliun dan dibagi 104 juta petani kita. Satu banding seribu. Satu (rupiah) keuntungan petani, seribu (rupiah) keuntungan pengusaha," tegasnya.

‎Menteri Amran menilai kondisi tersebut terjadi lantaran struktur pasar yang lebih gemuk dari petani menuju konsumen. Karena itu, Amran bertekad mengubah kondisi tersebut dengan membuat struktur pasar yang lebih ramping. "Disini harus merubah struktur pasar lebih baik sehingga petani kuat, konsumen senyum, pengusaha juga eksis. Jangan pengusahanya ke tanah suci, sementara petaninya jual lahan dulu baru ke tanah suci. Ini memang tantangannya besar, tak semua juga orang suka," katanya.

‎Menteri Amran menilai problem pasar saat ini lantaran harga beras saat ini sama sekali tidak bersahabat dengan petani. "Katakanlah harga beras di tingkat petani itu Rp 6000, tapi di pasar Rp 11 ribu. Artinya dari petani ke pasar naik 5000 di pasar. Petani cuma untungnya seribu. Kalau 5000 ini dikali 40 juta orang setiap tahun, 200 triliun beras yang dinikmati oleh orang tengah, orang yang tidak pernah kesawah. Sementara Petani untung 1000, dikali 40 juta jiwa dibagi 80 juta orang petani. Coba dibayangkan kalau 100 triliun saja keuntungan middle man ini kita geser buat petani kita," ujarnya.

‎Kondisi ini pula, lanjut Amran, yang membuat banyak generasi muda saat ini enggan turun ke sawah. "Generasi muda tidak mau jadi petani karna lihat bapaknya susah," katanya.

Sementara itu Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Anwar Adnan Saleh, menuturkan, peningkatan produksi kakao, yang merupakan andalan petani di wilayahnya. Dia pun bertekad akan menjadikan Sulbar sebagai pemasok kakao terbesar di Indonesia.

‎"Kami berharap bisa mewujudkan keinginan Jokowi bawa Indonesia sebagai penghasil kakao nomor 1 di dunia paling lambat 2020," tegas Anwar.

‎Dia mengatakan, saat ini petani di Sulbar jumlahnya 60 persen dari total jumlah penduduk di Sulbar. Kedatangan Menteri Amran dan rombongan, kata dia, merupakan kebanggaan tersendiri bagi warganya. Dalam kesempatan tersebut, Anwar juga memastikan saat ini produksi padi di wilayahnya surplus 100 ribu ton.

‎"Jadi masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir bahkan risau dengan adanya pemberitaan berita impor. Kami tak butuh beras impor. Kami di Sulbar surplus 100 ribu ton/tahun dan bisa mengirim beras Sumbar, Kalsel, Kalteng, Sulteng dan beberapa kabupaten propinsi lain," katanya.

‎"Jadi Sulbar dengan (populasi) 1,3 juta jiwa saja saat ini bisa buat surplus apalagi propinsi lain Sulsel, Jabar, dan propinsi lainnya," katanya.

(RMOL)