Pemanfaatan Teknologi DNA Membuat Padi Lebih Cepat Panen

Petani beras selalu mencoba teknik penanaman padi yang efektif dan efisien. Teknik terbaru dengan teknologi DNA memungkinkan produksi beras yang lebih cepat. 

 

Bangkok Post (15/02) mengabarkan para peneliti baru saja menyelesaikan pengurutan DNA dari 3000 jenis beras yang umum dikonsumsi. Dengan pembukaan data ini, para petani dapat memproduksi beras lebih cepat sekalipun dalam kondisi lingkungan yang makin sulit.

 

Muncul kemungkinan hadirnya varietas beras baru yang lebih tahan terhadap hama atau penyakit tertentu. Para peneliti juga berharap adanya varietas beras yang mengandung lebih banyak nutrisi dan vitamin.

 

"Temuan ini menjadi hal besar untuk memperkuat ketahanan pangan bagi negara pengonsumsi beras," ujar Kenneth McNally, ahli biokimia Amerika di International Rice Research Institute (IRRI) yang berbasis di Filipina.

 

Peneliti mencatat selama ini teknik penanaman padi tidak memungkinkan petani tahu gen mana yang mengendalikan sifat mana. Terobosan terbaru dalam genetika molekuler ini menjanjikan proses penanaman lebih cepat.

 

Pengurutan genom melibatkan proses penguraian kode (decoding) DNA. Proses ini berusaha memecahkan teka-teki pola rantai raksasa yang terdiri dari miliaran potongan mikroskopis.

 

Adalah tim multinasional bersama perusahaan pengurutan genom terbesar dunia (BGI) yang bertanggungjawab atas tugas tersebut dalam proyek berjangka 4 tahun. Sampel jaringan untuk penelitian diambil sebagian besar dari bank gen IRRI, tepatnya dari 127.000 varietas beras yang ditanam tim McNally di laboratorium Los Banos.

 

Peneliti meyakini para petani membutuhkan temuan baru ini untuk memenuhi kebutuhan beras yang semakin meningkat. Terlebih masalah lingkungan seperti perubahan iklim, sempitnya lahan, dan berkembangnya hama dan penyakit yang semakin menyulitkan proses penanaman padi konvensional.

 

"Pada dasarnya Anda akan dapat merancang sifat tertentu yang diinginkan pada sebuah beras. Termasuk dalam hal ketahanan terhadap kekeringan atau penyakit, hasil lebih banyak, atau yang lainya," ujar ahli bioanalitik dari Rusia dan anggota tim IRRI, Nickolai Alexandrov.

 

Meski terobosan DNA telah memunculkan banyak harapan baik, peneliti IRRI mengingatkan ini bukanlah peluru ajaib yang dapat menyelesaikan semua masalah berkaitan padi. Mereka percaya modifikasi genetik juga diperlukan. Begitu juga dengan kebijakan tepat dari pemerintah setempat. Baik dalam hal penggunaan lahan dan air.

 

Salah satu prioritas utama IRRI juga soal beras bernutrisi sebagai 'alat' melawan penyakit terkait pola gizi buruk di negara miskin serta penyakit terkait gaya hidup di negara kaya. "Kami tertarik memahami nilai gizi... kami melihat ke arah pengayaan mikronutrien," ujar Nese Sreenivasulu selaku Kepala Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras IRRI.

 

Misalnya beras yang memiliki kemampuan lebih lambat meningkatkan gula darah untuk mengatasi diabetes tipe 2 di negara maju. Atau beras kaya zinc yang dapat mencegah kerdil dan kematian akibat diare di Asia Tenggara. (Detikcom)