Kementan Yakin Bisa Jadikan Indonesia Lumbung Pangan Dunia pada 2045

Staf Ahli Kementerian Pertanian (Kementan) untuk Bidang Infrastruktur, Dedi Nursyamsi menyatakan, selama ini pemerintah sudah memasang target kuat, yakni menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.


"Nah, menurut kami ada tiga hal yang perlu ditekankan pada pengelolaan rawa. Pertama infrastruktur, teknologi inovasi dan human resources. Kalau ini bisa dikelola kami yakin tujuan lumbung pangan dunia akan tercapai," kata dia dalam diskusi pertanian di Gedung PIA Kementan, Rabu (24/4/2019), melalui rilisnya kepada redaksi Warta Ekonomi.


Menurut Dedi, program ini tak lepas dari upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan kelahiran penduduk hingga 1,34%. Atau dengan kata lain, ada sekitar 3,5 juta yang membutuhkan makan.


"Di saat bersamaan banyak alih fungsi lahan. Maka itu, peluang lahan rawa, baik yang pasang surut maupun tadah hujan sangat baik sekali. Kalau dikelola dengan benar, maka produksi padi di lahan rawa bisa mencapai sembilan kali lipat," tandasnya.


Di tempat yang sama, peneliti pada Balai Penelitian Tanah Kementan, I GM Subiksa mengatakan bahwa keberadaan lahan rawa selama ini sangat termarjinal dan rapuh. Dengan kata lain, apa pun tumbuhanya tidak bisa tumbuh secara baik.


"Karena itu kita harus serius memanfaatkan lahan rawa karena selama ini yang jadi problem kita," katanya.


Secara karekteristik, kata Subiksa, lahan rawa memiliki sedimen margin lapisan tanah pirit (FeS2). Kemudian posisi dan konsentrasi pirit bervariasi dan menentukan tipologi lahan.


"Lalu pirit mudah teroksidasi menghasilkan lahan dengan reaksi sangat masif," katanya.


Secara genetis, lahan pasang surut merupakan tanah endese dengan tingkat kesuburan yang relatif baik.


"Tapi kalau tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi degradasi lahan rawa seperti tanah masam yang menyebabkan basah-basah casium, magsium, dan kasium tercuci," tegasnya.


(Wartaekonomi.co.id)