Pemerintah Ekspor Vanili Rp 26,8 Miliar

Pemerintah mengekspor hasil pertanian berupa vanili yang ada di DIY dan Jawa Tengah (Jateng) sebesar lima ton atau setara dengan Rp 26,8 miliar. Komoditas ini dikirim ke berbagai negara.


Kepala Pusat Kepatuhan, Kerja Sama san Informasi Perkarantinaan (KKIP) Badan Karantina Pertanian, Kementan, Sujarwanto mengatakan, vanili merupakan komoditas strategis dan unggulan. Yang mana, sentral komoditas ini juga berada di DIY dan Jateng.


"Di DIY itu ada di daerah Bukit Menoreh, Kulon Progo. Kalau Jateng itu daerah Temanggung, Wonosobo. Tapi untuk diekspor dari balai ini tidak hanya DIY Jateng saja, tapi ada dari Papua dan NTT juga masuk di sini," kata Sujarwanto di Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Yogyakarta, Selasa (5/3).


Ia mengatakan, kinerja ekspor di Indonesia tenag mengalami penurunan. Bahkan, mengalami defisit kurang lebih 8,7 miliar dolar AS.


Namun, kinerja ekspor akan terus ditingkatkan. Tentunya hal ini dilakukan melalui ekspor terhadap komoditas unggulan yang dimiliki, salah satunya vanili.


"Pasokannya (vanili) sedang banyak. Kita masih menunggu ini stoknya dari petani. Harapannya, 2019 kita sudah bisa menjadi nomor satu untuk pengekspor vanili," kata Sujarwanto.


Kepala BKP Kelas II Yogyakarta, Ina Soelistyani mengatakan, ekspor vanili ini terus mengalami peningkatan. Di 2018, total ekspor vanili mencapai 270 ribu ton.


"Tiga bulan terakhir, di Desember kita ada sekitar 2,4 ton, Januari ada 1,2 ton, Februari 2,2 ton. Dan (Maret) kali ini ada lima ton," kata Ina.


Komoditas ini dikirim tidak hanya ke Amerika Serikat. Namun, Eropa dan Asia juga menjadi negara tujuan ekspor vanili ini.


"Ada Republik Chechnya, Antigua, Barbuda, Tahiland, Bulgaria, German, Denmark, India Perancis, Belanda, Korea Selatan, Filipina dan Singapura," kata Ina.


Selain vanili, komoditas lain dari DIY yaitu buah cengkeh kering, gula merah dan salak juga diekspor. Cengkeh yang diekspor mencapai 10 ton dengan nilai Rp 1,192 miliar.


Sementara, gula merah juga sebesar 10 ton dengan nilai Rp 335 juta dan buah salak sebesar 7,8 ton dengan nilai Rp 136, 5 juta.


Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemda DIY, Mudhi Rahardjo mengatakan, ekspor dengan dilakukannya berbagai ekspor ke luar negeri, membuktikan komoditas Indonesia dapat bersaing. Artinya, produk tersebut dapat diterima di pasar internasional.


"DIY dan Jateng merupakan provinsi yang punya produk unggulan yang sudah diekspor ke luar negeri. Salak, sampai saat ini masih menjadi komoditas pertanian unggulan. Cengkeh kering, vanila, pala yang nilai rupiahnya juga menjanjikan," kata Mudhi.


Dalam menciptakan produksi komoditas ekspor yang baik, pendampingan pun dilakukan terhadap petani. Pendampingan dilakukan secara budidaya, pemasaran bahkan untuk pasar ekspor.


"Berbagai program peningkatan dilakukan. Petani merupakan pahlawan devisa negara. Pemerintah akan terus semangat mendorong produksi kualitas yang baik," ujarnya.


Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko mengatakan, DIY sendiri tengah mengambangkan produk vanili ini. Hal ini dikarenakan potensinya sangat besar untuk dapat dikembangkan.


Bahkan, nilai ekspornya pun tinggi. "Ini dapat mengangkat kesejahteraan bagi masyarakat di DIY. Kemudian yang kita kembangkan juga gula dari Kulon Progo, kemudian salak," ujar Sasongko.


(Rupublika.co.id)