FAO Dorong Industri Pengemasan Makanan Berinvestasi di Negara Berkembang

Prihatin dengan banyaknya produksi makanan yang terbuang sia-sia, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mendorong perusahaan multi nasional yang bergerak di industri pengemasan makanan, berinvestasi di sejumlah negara berkembang. Selain potensi ekonominya yang sangat besar, secara signifikan hal ini akan banyak membantu mengurangi jumlah makanan yang terbuang percuma.

 

 

Dari rilis resmi FAO, sekitar sepertiga makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang begitu saja, baik itu karena tampilannya jelek, membusuk atau kadaluarsa. Padahal jumlah makanan yang terbuang itu cukup untuk memenuhi kebuutuhan pangan global.

 

Tak hanya mubasir dan menimbulkan kerugian pada rantai pasokan makanan, termasuk kerugian paska panen, tumpukan makanan ini dalam jangka panjang akan menyebabkan pencemaran lingkungan yang serius.

 

Karena itu, FAO terus berupaya untuk mengurangi jumlah makanan yang terbuang hingga separuhnya di tingkat ritel maupun konsumen pada tahun 2030.

 

Salah satu upaya tersebut adalah mendorong perusahaan-perusahaan multi nasional mengucurkan investasinya di negara-negara berkembang. Potensi ekonomi yang cukup besar akan berdampak positif bagi investor dan negara tujuan investasi.

 

“Besarnya produksi namun tak diimbangi dengan pengolahan makanan yang efisien, sebenarnya merupakan insentif ekonomi yang menjanjikan bagi industri pengemasan makanan untuk berinvestasi di bidang manufaktur lokal,” ujar Robert van Otteriyd, pakar FAO tentang limbah makanan.

 

Van Otteriyd menambahkan, industri pengemasan makanan berkembang pesat di negara-negara maju. Perilaku konsumen yang menuntut presisi ukuran porsi, pencantuman masa produksi yang ketat serta teknologi kemasan untuk memperpanjang umur simpan makanan, membuat industri ini menjadi industri vital di negara maju.

 

Namun demikian, van Otteriyd mengakui ada banyak kendala untuk menerapkannya di negara-negara berkembang, khususnya di sebagian negara Afrika dan Asia. Masalah utamanya adalah minimnya penggunaan teknologi modern untuk sektor kemasan, bahkan pada tingkat yang sangat dasar.

 

“Bahan-bahan kemasan berkualitas, sebut saja kaleng, botol, tetrapaks dan yang sejenisnya, sedikit yang tersedia secara lokal di negara-negara berpenghasilan rendah. Di negara-negara tersebut, lebih-lebih di sektor industri pertanian skala kecil dan menengah, pengemasan hasil panen sangatlah sederhana,” jelasnya.

 

Minimnya ketersediaan bahan kemasan yang berkualitas ini kemudian disiasati dengan mengimpornya. Hal ini pada akhirnya akan membuat produk makanan lokal menjadi terlalu mahal dan tidak kompetitif jika harus bersaing dengan produsen atau perusahaan makanan asing.

 

“Kondisi ini menjadi persoalan besar yang menghambat pengembangan sekaligus meningkatkan penghasilan masyarakat di wilayah pedesaan, di mana bahan baku produk pertanian amat melimpah,” imbuh van Otteriyd.

 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa buah-buahan, sayuran, susu, daging, ikan adalah bahan-bahan makanan yang mudah rusak. Untuk mengindari kerugian serta terbuangnya makanan secara sia-sia, dibutuhkan pengolahan dan pengemasan makanan dengan teknologi modern.

 

Sejauh ini, melalui inisiatif SAVE FOOD, FAO berhasil menarik minat sejumlah industri pengemasan makanan untuk bergabung dalam kemitraan global yang melibatkan produsen makanan, pengolah, pengecer, konsumen serta masyarakat sipil lainnya.

 

Inisatif tersebut yang juga didukung lembaga donor, agensi multilateral dan institusi finansial dari berbagai negara, bertujuan untuk mengurangi limbah dan sisa-sisa makanan yang terbuang sia-sia di seluruh dunia.

 

(Pomidor.id)