Kementan Kembangkan Smart Farming untuk Capai Ketahanan Pangan Nasional

Kementerian Pertanian terus mengembangkan sektor pertanian Tanah Air salah satunya melalui Smart Farming untuk mencapai ketahanan pangan nasional.


Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi pada Seminar Online "Smart Farmirug for Agriatlture 4.0” yang diadakan oleh Polbangtan Malang, sasaran utama dari konsep smart farming adalah petani milenial.


"Kementerian Pertanian saat ini sedang fokus menghadirkan banyak petani milenial sebagai bagian dari regenerasi. Sebab, pertanian Indonesia mayoritas diisi petani dalam kategori usia tua dengan latar belakang pendidikan SD bahkan tidak sekolah. Tidak bijak rasanya jika kita menggantungkan kemajuan pertanian Tanah Air di pundak mereka," terang Dedi Nursyamsi, Rabu (29/7).


Dedi menilai kondisi tersebut yang mendorong Kementan terus mengupayakan lahirnya petani milenial, dengan usia yang lebih produktif dan latar belakang pendidikan sarjana dan sederajat.


"Kenapa harus petani milenial? Karena dalam konsep smart farming kita ingin memaksimalkan pemanfaatan internet untuk meningkatkan produktivitas dalam waktu cepat. Dan generasi milenial sangat dekat dengan internet. Oleh sebab itu dari mereka kita juga berharap penerapan smart farming lebih cepat, bahkan muncul inovasi-inovasi baru di bidang pertanian," tuturnya.


Dedi mencontohkan jika konsep smart farming antara lain dengan konsep smart green house seperti irigasi yang otomatis (smart irrigation), sensor suhu, dan lainnya.


"Smart farming adalah aplikasi teknologi informasi dan komunikasi modern (ICT) yang kita terapkan ke dalam pertanian. Seperti metode manajemen informasi yang berkaitan dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan sistem pakar, meliputi perencanaan, pengendalian, juga pengambilan keputusan," terangnya.


Konsep smart farming juga menerapkan proses robotika, control otomatis, dan kecerdasan buatan di semua tingkat produksi pertanian, termasuk peternakan dan Farmdrones.


"Pertanian cerdas adalah konsep pertanian modern yang memperhatikan penggunaan teknologi mekanisasi yang tepat untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil pertanian dan menurunkan input secara signifikan," tutur Dedi Nursyamsi lagi.


Dijelaskannya, pertanian cerdas diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi antara sistem informasi manajemen, teknologi presisi, dan cyber physical system.


"Yang harus diingat, keberlanjutan pertanian cerdas sangat tergantung kepada ketersediaan data (big data), ketersediaan jaringan internet, lembaga pengelola, SDM yang kompeten, regulasi pemerintah, dukungan dana pemerintah, dan tentunya partisipasi petani," katanya.


Dukungan disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Menurutnya, pertanian Indonesia harus siap menyongsong era pertanian 4.0.


"Sektor pertanian sekarang sudah masuk dalam era pertanian 4.0. Semua sektor sudah menerapkan digitalisasi, menggunakan teknologi dan mekanisasi. Era 4.0 ini sangat dekat dengan generasi milenial. Oleh sebab itu, kita membutuhkan generasi milenial untuk terjun ke sektor pertanian sekaligus memajukannya," tutur Mentan SYL.


(merdeka.com)