Kementan Ungkap 7 Provinsi yang Defisit Beras

Kementerian Pertanian melaporkan adanya tujuh provinsi yang mengalami defisit beras. Kondisi ini terjadi lantaran ketersediaan beras di wilayah tersebut masih berada di bawah kebutuhan seiring belum tersalurnya pasokan dari daerah yang surplus.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Suwandi menjelaskan bahwa ketujuh provinsi yang mengalami defisit tersebut mencakup Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, serta sebagian Papua.

"Distribusi belum merata dari provinsi-provinsi yang panen sehingga daerah-daerah ini memang kurang," kata Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (29/4/2020).

 

Suwandi menjelaskan bahwa kondisi defisit ini bakal ditanggulangi dengan upaya konsolidasi pasokan beras dari tiga provinsi yang mengalami surplus, yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.

 

Adapun stok beras keseluruhan dari ketiga provinsi ini pada April yakni 721.657 ton di Jawa Timur, 183.845 ton di Sulawesi Selatan, dan 38.988 ton di Kalimantan Timur. Sementara stok beras nasional yang tersebar di penggilingan padi, pedagang, dan Perum Bulog per April tercatat berada di angka 3,52 juta ton.

 

"Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur bisa memasok daerah-daerah merah untuk mengaturnya," kata Suwandi.

Meski terdapat daerah yang terpantau mengalami defisit, Suwandi menjamin bahwa potensi ketersediaan beras sampai Juni 2020 akan mencukupi.

 

Berdasarkan penghitungan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras periode April–Juni 2020 diperkirakan mencapai 10,58 juta ton dengan total luas panen sebesar 3,83 juta hektare. Jika ditambah stok beras nasional akhir bulan Maret sebesar 3,45 juta ton, maka total ketersediaan beras akan mencapai 14,03 juta ton selama periode ini.

 

Kebutuhan beras selama periode ini pun diperkirakan berada di angka 7,61 juta ton. Berdasarkan prognosis tersebut, Kementan menjamin neraca beras nasional pada akhir Juni surplus 6,4 juta ton.

"Kami yakin akan surplus, bahkan berpotensi lebih dari itu karena kami belum memperhitungkan stok yang ada di rumah tangga, petani, hingga hotel, restoran, maupun industri," ujar Suwandi.

 

Dia menjelaskan bahwa sepanjang April–Juni, produksi beras tertinggi terjadi di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Banten dengan potensi produksi gabah kering giling (GKG) lebih dari 500.000 ton. Adapun produksi terendah berada di Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Kalimantan Utara, Papua Barat, Maluku Utara, dan Maluku. (Bisnis.Com)