Kementan Dorong Konawe Selatan Jadi Lumbung Hortikultura

JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara untuk menjadi sebagai lumbung komoditas hortikultura nasional. Kabupaten Konawe Selatan memiliki keunggulan untuk tiga komoditas hortikultura, yakni bawang merah, tomat, dan cabai.


Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prihasti Setyanto, mengatakan, sumber daya alam di Konawe Selatan sangat besar untuk bisa dikembangkan komoditas hortikultura yang menjadi kebutuhan pangan pokok nasional. Ia menuturkan, untuk itu, perlu adanya penguatan peran dari petani dan penyuluh untuk bisa mendukung Konawe Selatan menjadi lumbung pangan. Masalah-masalah yang dihadapi juga harus bisa dipecahkan para penyuluh setempat agar sesuai dengan konteks kedaerahan.


"Petani adalah pelaku utama kemandirian pangan. Penyuluh harus dekat dengan petani dan bisa memahami apa yang menjadi permasalahan dan harapan," kata Prihasto dalam keterangan resminya diterima Republika.co.id, Ahad (3/11).


Konawe Selatan pada tahun ini sekaligus menjadi tuan rumah dalam peringatan Hari Pangan Sedunia yang digelar pada 1-5 November 2019. Karena itu, peringatan HPS sekaligus dijadikan momen untuk mendorong Konawe Selatan menjadi sentra hortikultura nasional.


Kepala Bidang Hortikultura Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Utara, Asmianto, mendukung langkah Menteri Pertanian 2019-2024, Syahrul Yasin Limpo untuk menjadikan penyuluh sebagai garda terdepat. Termasuk, dalam pendampingan adopsi teknologi bagi para petani.


Salah satu penyuluh pertanian setempat, Iswati mengatakan, petani yang menanam tomat di daerahnya bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 30 juta dari menanam sekitar 5.000 batang pohon. Hasil keuntungan itu diterima dari rata-rata produktivitas per pohon yang tembus hingga 2 kilogram.


Sementara itu, salah satu petani muda setempat, Sardi (28), mengatakan, Kelompok Petani Cerah Sejahtera yang ia ikuti telah mengambangkan cabai besar varietas darmais dan pilar dengan produksi mencapai 20 ton per hektare dan cabai rawit varietas super putih dengan produktivitas mencapai 15 ton per hektare.


"Kami juga membudidayakan tomat varietas Servo F1 dan Timoti yang produktivitasnya mencapai 40 ton per hektare," ujarnya.


Ia mengatakan, peningkatan poduktivitas dan kualitas komoditas pertanian harus ditangani profesional dengan penerapan inovasi teknologi maju serta prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Dengan begitu, bukan hanya mutu yang lebih baik tapi juga akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.


(republika.co.id)