Kementan: Tren Ekspor Produk Perkebunan Indonesia Meningkat

WE Online, Jakarta - Hasil pertanian yang dimiliki Indonesia begitu melimpah. Keuntungan ini tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk melakukan ekspor produk-produk pertaniannya ke mancanegara.


Secara umum, ekspor pertanian mengalami tren positif dalam lima tahun terakhir ini. Pengecualian untuk 2016, penurunan terjadi akibat imbas dari fenomena El Nino yang sempat membuat produksi pertanian menurun.


Pada 2014, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor komoditas pertanian Indonesia mencapai 36 juta ton, meningkat menjadi 42,5 juta ton pada 2018. Sedangkan secara nilai, peningkatan jumlah ekspor terjadi dari Rp368, 4 triliun pada 2014 menjadi Rp415,9 triliun pada 2018. Secara total jumlah nilai ekspor komoditas pertanian Indonesia periode 2014 hingga 2018 mencapai Rp1.957 triliun.


"Kenaikan ini didorong oleh beberapa hal, seperti pertumbuhan produksi dan produktivitas lahan pertanian serta kebijakan-kebijakan yang dilakukan untuk mempermudah proses ekspor produk pertanian," kata tim riset Warta Ekonomi dalam keterangannya, Senin (16/9/2019).


Kebijakan-kebijakan tersebut di antaranya penerapan sistem perizinan berbasis sistem informasi melalui One Single Submission (OSS), pendampingan dan bimbingan terhadap pelaku usaha tani agar mampu mencapai tingkat yang lebih efisien, serta mendorong kemitraan antara usaha tani dengan pelaku ekspor.


Konstribusi terbesar ekspor komoditas pertanian Indonesia adalah tanaman perkebunan, seperti kakao, kelapa sawit, teh, tembakau, kopi, cengkeh yang kemudian disusul oleh tanaman holtikultura, tanaman pangan dan peternakan.


"Secara total, tanaman perkebunan memberikan kontribusi terhadap ekspor komoditas pertanian Indonesia sebesar 91,4%," bebernya.


Untuk komoditas kopi, berdasarkan data BPS, tujuan utama ekspor Indonesia adalah Amerika Serikat dengan persentasi terhadap total ekspor kopi Indonesia tahun lalu sebesar 30,70%, meningkat dari 2017 dengan porsi 21,70%.


Jepang adalah negara terbesar kedua untuk tujuan ekspor kopi Indonesia dengan persentase 10,22% di 2018, meningkat dari 6,79% di 2017. Negara tujuan ekspor terbesar ketiga adalah Malaysia dengan porsi 7,65% pada 2017 dan meningkat menjadi 8,63% pada 2018.


Menurut Kuntoro, pertumbuhan permintaan dari luar negeri, menunjukkan bahwa kualitas komoditas kopi Indonesia semakin diakui di kancah internasional.

Sedangkan untuk negara tujuan ekspor teh terbesar pada 2018 adalah Malaysia 12,73% dengan nilai US$15,5 juta, Rusia 10,98% dengan nilai US$11,8 juta, dan Pakistan 8,01% dengan nilai US$8,6 juta. Ketiga negara tersebut juga merupakan negara tujuan ekspor komoditas teh Indonesia pada 2017.


Tujuan utama untuk komoditas ekspor lada adalah Vietnam dengan porsi 37,05% dari total keseluruhan ekspor lada Indonesia di 2018. Diikuti oleh India dengan 12,02% dan Amerika Serikat dengan 11,56%.


"Ketiga negara ini menyerap lebih dari 60% ekspor lada Indonesia secara keseluruhan," tukasnya.


(wartaekonomi.co.id)