Kementan Bangun Sentra Buah-buahan di Indonesia

Jakarta - Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan telah menyiapkan strategi pengembangan produk buah-buahan terkait ketersediaan lahan. Ini dia sampaikan pada Focus Group Discussion (FGD) 'Pengembangan Hortikultura untuk Peningkatan Ekspor dan Ekonomi Daerah', di Madiun, Senin (12/8).


"Konsep kami, rencananya kita akan lakukan kegiatan untuk skala, misalnya ada satu kabupaten cocok untuk tanaman manggis. Bantuan yang kita berikan nanti langsung skala luas,"ungkapnya.


Dengan catatan, daerah tersebut memang benar-benar cocok untuk pengembangan suatu komoditas, baik ditilik dari segi kualitas tanah, keekonomian, hingga ketersediaan lahan.


"Yang penting memiliki keekonomian yang sesuai, sumber daya lahan yang sesuai kita akan beri bantuan skala luas disana supaya bisa mendorong komoditas tersebut menjadi satu daerah menjadi satu sentral buah-buahan siap diekspor," imbuhnya.


Sebagai contoh, dia menjelaskan, misalnya sebuah kabupaten memiliki potensi untuk pengembangan manggis dengan total lahan sebesar 500 hektar. Jika setelah kajian dilakukan dan secara ekonomis menguntungkan, maka Kementan akan mengucurkan anggaran untuk pengembangan Manggis di 500 hektar lahan tersebut.


"Misalnya wilayah tersebut secara ekonomi wilayah tersebut bisa dikembangkan 500 hektare, nanti akan kita kembangkan di Kabupaten itu 500 hektar. Insya Allah 4-5 tahun kemudian menjadi sentra manggis yang unggul,"


Dia menambahkan, untuk tahun ini, pihaknya mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 1.080-an triliun. Dari total anggaran tersebut, Rp 177 miliar diperuntukkan bagi pengembangan produk holtikultura.


"Untuk buah-buahan, memang kami ada, alokasi anggaran untuk peningkatan produksi buah dan produk holtikultura sekitar Rp 177 miliar," tandasnya.


Indonesia kembali ekspor manggis ke China. Kali ini, sebanyak 93 ton manggis asal Kabupaten Pandeglang, Banten diekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut.


Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian‎ (Kementan), Suwandi mengatakan, pihaknya memang fokus untuk menggenjot ekspor produk hortikultura pada 2019. Selain diimpor, 714 ton manggis asal Pandeglang tersebut juga didistribusikan ke sejumlah wilayah di Indonesia.


"Ini buah manggis dari Pandeglang dieskpor 93 ton ke China dan 714 ton dijual antar wilayah ke Jakarta, Surabaya, Makasar dan lainnya. Ini juga menunjukkan kualitas manggis Pandeglang sudah masuk pasar ekspor.‎ Secara nasional pangsa ekspor 23 persen produksi manggis Indonesia sebesar 160 ribu ton setahun,” ujar dia di Jakarta, Rabu (23/1/2019).


Dia mengungkapkan, Indonesia saat ini berada di peringkat ke-5 dunia sebagai negara produsen manggis, setelah India, China, Kenya, dan Thailand.


Pada 2018, Indonesia juga telah mengekspor 35 ribu ton manggis ke China, Malaysia, Thailand, Vietnam, Hongkong, Perancis dan negara lainnya.


Adapun sentra manggis terbesar di Jawa Barat, Sumatera Barat, sedangkan Banten pada posisi 10 besar produsen manggis.


"Ekspor manggis di tahun 2018 naik 300 persen dibandingkan 2017 sebesar 9 ribu ton. Ini merupakan peningkatan sangat besar, selisihnya cukup besar sekali salah satunya dari Pandeglang. Ke depan kita dorong untuk ditingkatkan lagi ekspornya. Saya minta diperbanyak tanaman, jangan sampai ada lahan tidur. Terus tingkatkan produktivitasnya," kata dia.


Suwandi menjelaskan, pemupukan dan perawatan tanaman merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas manggis.


Pengendalian organisme pengganggu tanaman pun penting agar manggis yang diproduksi lebih mutu. Selanjutnya untuk bisa masuk ekspor juga perlu dilakukan registasi kebun dan sertifikasi packaging house.


"Kementan memberikan pelayanan cepat dalam perkarantinaan, bahkan menjemput bola dengan inline inspection. Pengurusan izin dokumen ekspor tidak lagi berhari-hari atau berbulan-bulan, sangat cepat. Ini terobosan yang dilakukan Menteri Pertanian untuk menggenjot ekspor dan investasi," ungkap dia.


Sementara itu, Bupati Pandeglang Irna Narulita mengatakan Pandeglang memiliki potensi sumber daya pertanian yang sangat menjanjikan, yakni tidak hanya dapat menjadi lumbung padi dan kedelai, tetapi juga di bidang hortikultura.


Menurut dia, kemajuan sektor pertanian di daerah hingga bisa melakukan ekspor, tentu atas dukungan dari Kementan, sehingga petani meningkatkan produktivitas manggis.


"Kualitas ekspor ini harus bagus, jangan sampai ada yang cacat karena akan menurunkan harga dan kualitas manggis,” tegasnya


Manggis yang diekspor sebanyak 93 ton dihasilkan petani di Kecamatan Bojong yakni dari Desa Mekarsari Kelompok Tani Mekar Rahayu 2 sebanyak 27 ton dan Desa Bojong Kelompok Tani Barokah 65 ton.


Selain untuk ekspor, Kelompok Tani (Poktan) dari beberapa Kecamatan penghasil manggis lainnya juga memasok untuk pasar regional sebanyak 714 ton yang akan dikirim ke Jakarta, Bogor dan Tangerang.


"Kelompok Tani yang memasok adalah Kelompok Tani Ciranggon Jaya Desa Kondang Jaya Kecamatan Cisata sebesar 110 ton, Kelokpok Tani Jiwa Nusantara Desa Sindang Hayu Kecamatan Saketi sebesar 96 ton, Kelompok Tani Cipandan Jaya Desa Sindang Laut Kecamatan Carita sebesar 36 ton, dan Kelompok Tani Mulya Tani Desa Jaya Mekar Kecamatan Cirebon sebesar 48 ton," kata Irna.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid menambahkan, terdapat lima kecamatan di Kabupaten Pandeglang yang menjadi sentra produksi manggis, yaitu Kecamatan Bojong, Saketi, Menes, Cikedal dan Kecamatan Carita.


"Populasi pohon manggis di Kabupaten Pandeglang tersebut mencapai 78.511 pohon. Produktivitas 896 kwintal. Harga manggis di tingkat petani saat ini mencapai Rp 8.000 sampai Rp 12 ribu per kilogram," ujar Agus.


(liputan6.com)