Kemtan Optimistis Produksi Kedelai Capai 1,83 Juta Ton Tahun Ini

Kenaikan harga bungkil kedelai di pasar global diprediksi masih terus akan berlanjut. Untuk itu, pemerintah meminta industri pakan ternak pengguna bahan baku kedelai untuk menyerap kedelai lokal.

 

 

Apalagi saat ini, Kementerian Pertanian (Kemtan) mengklaim produksi kedelai terus meningkat dan mencapai 1,83 juta ton sampai akhir tahun 2018.

 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kemtan Sumarjo Gatot Irianto memandang kenaikan harga bungkil kedelai impor menjadi momentum bagi industri pakan ternak untuk menyerap kedelai lokal. Sebab, ia menurutnya produksi kedelai lokal saat ini terus meningkat.

 

Dari data Kemtan, realisasi penanaman kedelai periode Oktober 2017 sampai Maret 2018 seluas 424.278 ha. "Kami perkirakan realisasi produksi dari tanam tersebut 636.417 ton dengan produktivitas 1,5 ton per ha," ujarnya.

 

Ia melanjutkan, untuk luas tanam kedelai periode April-September 2018 bisa mencapai 1 juta ha. Bila diasumsikan panen terjadi di 80% luas rencana tanam 1 juta ha atau sekitar 800.000 ha, maka produksi kedelai tahun ini diperkirakan 1,2 juta ton.

 

Bisa ditambah 636.417 ton, Sumarjo menghitung, maka produksi kedelai dalam negeri akan mencapai 1,83 juta ton pada tahun ini. Produksi ini lebih tinggi dari rata-rata produksi tahunan kedelai di kisaran 1 juta ton.

 

Menurut Sumarjo, bila Kemtan dapat tambahan anggaran dalam APBNP 2018, maka luas tanam kedelai bisa bertambah 500.000 ha lagi. "Kita bisa dapat tambahan produksi 750.000 ton," tambahnya.

 

Sebelumnya, tercatat harga bungkil kedelai (soybean meal) mulai menanjak sejak Februari 2018. Di pasar lokal semisal, harganya sudah tembus Rp 7.600 per kg dari harga sebelumnya Rp 5.200 per kg.

 

(Kontan)