Kementan Duga Terjadi Penyimpangan Selama Proses Distribusi Beras

Kementerian Pertanian menduga telah terjadi penyimpangan yang menyebabkan harga pangan kerap meninggi jelang hari-hari besar keagamaan.

 

 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto menegaskan, hingga saat ini produksi padi dan kegiatan panen di Indonesia masih terus berlangsung dan mencukupi.

 

 

Hal ini, bisa dibuktikan dengan foto open camera yang dilengkapi dengan keterangan titik koordinat berupa garis bujur dan lintang serta tanggal pengambilan foto.

 

Ada pula citra satelit yang bisa memastikan betul apakah sebuah lokasi panen benar-benar ada atau tidak.

 

Untuk itu, dia meminta agar pihak-pihak tidak melulu menyalahkan data terkait produksi pangan yang ada.

 

“Sekarang pertanyaannya, kalau kita di pasokan lapangan ada, di panennya ada dan jumlahnya banyak, kenapa nggak tersedia di pasar? Itu kan berarti ada miss antara produksi dengan pasar, berarti ada hambatan distribusi atau ada yang menggoreng,” kata Gatot ketika dihubungi Bisnis, Minggu (21/1/2018).

 

Kecurigaan Gatot akan adanya kemungkinan hambatan distribusi atau pihak-pihak yang sengaja menggoreng isu berkembang ini didasarkan pada kejadian peningkatan harga yang kerap terjadi hampir setiap kali menjelang hari-hari besar keagamaan di mana konsumsi rakyat biasanya memang meningkat.

 

Untuk itu, dia meminta agar pihak-pihak terkait lainnya bisa lebih bijaksana dalam mengambil jalan keluar dan tidak hanya memikirkan solusi jangka pendek yang bisa menimbulkan dampak negatif.

 

Dia juga berharap dengan mulai beroperasinya satgas pangan yang dipimpin oleh Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto masalah yang terjadi selama proses distribusi pangan termasuk kemungkinan adanya kecurangan pihak-pihak tertentu hingga menyebabkan harga meningkat, bisa segera diselesaikan.

 

“ Ini kan fenomena anomali kan. Nah, inilah yang harus dicari. Jangan mengambil solusi yang jangka pendek yang mendisrupsi sistem produksi pertanian. Satgas pangan saya kira sudah mulai bekerja dan saya berharap semuanya yang terjadi segera diselesaikan supaya ini tidak merugikan masyarakat,” tambahnya.

 

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR Ichsan Firdaus memberikan pendapatnya terkait opini kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja bermain untuk mengambil keuntungan sehingga menyebabkan tingginy harga pangan.

 

Menurutnya, ada tiga ‘hantu’ yang selalu mengikuti setiap kali gejolak harga beras dan wacana impor mencuat.


Ketiga ‘hantu’ tersebut adalah surplus, ‘rent seeker’, dan mafia atau spekulan beras.

Namun, katanya, hingga saat ini, belum ada pihak yang bisa benar-benar bisa membuktikan keberadaan ketiga ‘hantu’ tersebut.

 

"Kalau boleh saya melihat, sepanjang tiga tahun terakhir ini ketika ada gejolak harga beras, lalu kemudian ada terkait kebijakan impor misalnya, yang saya boleh perhatikan, setidaknya ada tiga ‘hantu’ yang bergentayangan terkait dengan persoalan beras ini,” katanya dalam paparan yang dia sampaikan dalam sebuah talk show yang digelar di Hotel Ibis, Cawang.

 

Ichsan berkisah bukan kali ini saja ketiga ‘hantu’ ini muncul. Pada pembicaraan wacana impor di 2015, menurutnya, ketiga ‘hantu’ ini juga hadir dengan segala akrobatiknya.

 

Sama seperti ‘hantu’ surplus, ‘hantu’ mafia atau spekulan beras menjadi yang paling sering dituduh membuat resah. Namun, dia menegaskan, hingga kini keberadaan dua hantu ini masih belum bisa dibuktikan.

 

"Otoritas pemerintah yang menangani tentang pengawasan persaingan usaha selalu mengatakan setiap ada kenaikan beras, ini ulah spekulan, ini ulah mafia beras tapi sepanjang tiga tahun belakangan ini, ketika ditanya siapa orangnya, mana tempatnya, bagaimana mereka melakukan spekulan itu. Tidak berhasil ditemukan. ‘Hantu’ ini yang kemudian selalu muncul," ujar Ichsan.

 

‘Hantu’ berikutnya adalah ‘rent seeker’, pihak yang berencana sebisa mungkin mengambil untung dari bahan pangan yang diimpor. Ichsan menambahakan, kalaupun memang ketiga ‘hantu’ ini benar-benar ada, pihak yang menyampaikan harus bisa menunjuk siapa pelakunya, sehingga mereka tidak akan pernah muncul lagi dan ketahanan pangan bisa terwujud.

 

Namun, jika ketiganya hanyalah tahayul, maka ada baiknya pemerintah mengambil tindakan mengakhiri gentayangannya ketiga ‘hantu’ ini.

 

"Kalau memang benar ada ‘rent seeker activity’ itu, tunjuk hidungnya, siapanya, lalu kemudian aparat hukum juga harus melakukan upaya upaya. Tapi, selama tiga tahun ini rasanya menurut saya belum ada upaya itu. Nah, ketiga ‘hantu’ ini lah yang menurut saya perlu kita selesaikan bersama sama," ujarnya.

 

(Bisnis.com)